Showing posts with label Legenda. Show all posts
Showing posts with label Legenda. Show all posts
Legenda Cerita Rakyat Telaga Warna Masyarakat Dieng Terbaik

Legenda Cerita Rakyat Telaga Warna Masyarakat Dieng Terbaik

Legenda Cerita Rakyat Telaga Warna Dieng - Legenda kisah telaga warna ternyata tidak saja dimiliki oleh Jawa Barat, Namun, di Jawa Timur juga terdapat kisah yang hampir serupa, yaitu legenda terjadinya telaga warna. Berikut ini adalah kisah Telaga Warna Dieng. 


Asal Usul Terbentuknya Telaga Warna

Alkisah pada jaman dahulu di dataran tinggi Dieng, Jawa Tegah hiduplah seorang ratu bersama seorang putrinya yang sangat cantik. Kecantikan putrinya tersebut telah tersebar luas hingga ke seluruh penjuru nusantara. Telah banyak pangeran dan kesatria yang meminta putrinya untuk dijadikan permaisuri. Namun, sang ratu belum memutuskan siapakah gerangan yang akan menjadi pendamping anaknya tersebut. 

Pada akhirnya Sang Ratu membuat sebuah persyaratan bagi para pelamar putrinya tersebut, yaitu dengan meminta dibuatkan danau atau yang disebut juga dengan telaga. Dari banyaknya para pelamar yang datang, hanya ada dua kesatria yang menyanggupinya. Kemudian, Sang Ratu mengadakan lomba bagi kedua kesatria tersebut untuk membuat telaga dengan cepat.

Kemudian, dilaksanakanlah permintaan Sang Ratu, mereka berdua berlomba � lomba membuat sebuah danau. Pada akhirnya kesatria pertama berhasil menyelesaikan telaganya terlebih dahulu dan dia menjulukinya telaga Menjer. Sementara itu, kesatria kedua menyelesaikan telaganya belakangan, lalu dia memberi nama Pengilon pada telaga yang telah dia buat. 

Akhirnya Sang Ratu memutuskan bahwa kesatria pertama dengan telaga Menjerlah yang menjadi pemenangnya. Dialah yang berhak mempersunting anaknya. Kemudian, mereka mulai merencanakan hari dan acara pernikahan tersebut.

Ketika Sang Ratu tengah penat dari pekerjaannya, dia pergi untuk menyegarkan pikiran dengan berwisata ke telaga yang telah dibuat oleh kesatria � kesatria itu. Sesampainya di sana dia melihat sebuah telaga yang sangat cantik dan indah dengan air yang sangat jernih. Dia pun menikmati keindahan tersebut dengan sangat gembira. 

Sang Ratu juga melihat telaga lainnya yang berada di sebelah telaga yang cantik itu, ternyata telaga itu sangat jelek. Bentuknya tidak beraturan, airnya pun kotor dan beriak. Kemudian, Sang Ratu mengetahui bahwa telaga yang cantik itu bernama telaga Pengilon, sedangkan telaga yang buruk itu bernama telaga Menjer. Dia juga sangat terkejut setelah mengetahui bahwa kesatria kedualah yang telah menciptakan telaga Pengilon.


Advertisement
Dengan segera Sang Ratu memanggil kedua kesatria itu untuk menghadapnya. Kesatria pertama menyangka bahwa panggilan ini pasti untuk membahas rencana pernikahannya dengan Sang Putri. Ternyata tidak, Sang Ratu malah membatalkan rencana pernikahan tersebut. Dia lalu mengubah keputusannya dengan memberikan kesatria kedua restu untuk menikahi putrinya.

Kesatria pertama bingung dia pun meminta penjelasan kepada Sang Ratu mengenai keputusannya itu. Sang Ratu lalu menjelaskan telaga Pengilon dibuat dengan sangat baik itu menandakan bahwa sang pembuatnya adalah seorang yang memiliki sifat dan hati yang baik. Sedangkan, telaga Menjer dibuat dengan asal � asalan dan menghasilkan telaga yang jelek. Hal ini menandakan bahwa pembuat telaga Menjer adalah orang yang buruk sifat dan hatinya. 

Kesatria kedua pun bahagia dengan keputusan Sang Ratu. Akhirnya dia dinikahkan dengan Sang Putri dan menjadi penerus kerajaan itu. Pada suatu hari, Sang Ratu kembali ke telaga Pengilon. Dia pun mandi di telaga itu. Ketika dia tengah mandi, angin datang berembus dengan sangat kencang. Hal ini membuat pakaian � pakaian Sang Ratu bertebrangan dan tersebar ke seluruh telaga, lalu tenggelam di dalamnya. 

Setelah kejadian itu, air di dalam telaga itu berubah menjadi warna � warni. Konon katanya, air itu berubah menjadi berwarna akibat dari warna pakaian Sang Ratu yang luntur dan tercampur dengan air telaga Pengilon. Oleh karena itu, telaga Pengilon menjadi semakin cantik dengan air yang berwarna.    
Read More
Legenda Cerita Rakyat Jaka Tarub Terbaru dan Terbaik

Legenda Cerita Rakyat Jaka Tarub Terbaru dan Terbaik

Legenda Cerita Rakyat Jaka Tarub Terbaru dan Terbaik - Legenda Jaka Tarub diceritakan dengan banyak versi yang berbeda - beda. Berikut ini adalah cerita rakyat berasal dari tanah jawa yang terbaru dan terbaik. 

Legenda Jaka Tarub

Pada jaman dahulu, hiduplah seorang anak muda yang tangkas dan gagah berani bernama Jaka Tarub. Ia tinggal bersama seorang ibu angkatnya yang benama Mbor Rhanda. Jaka Tarbu sangat sayang dengan ibu angkatnya tersebut. Tangannya yang kuat dan cekatan selalu digunakan untuk membantu Mbok Rhanda mengurus sawahnya.

Jaka Tarub tumbuh bersama Mbok Rhanda menjadi seorang pemuda yang tampan dan perkasa. Banyak gadis yang datang dan mau menjadikannya suami, tetapi tidak ada satupun yang bisa meluluhkan hati Jaka Tarub. Hingga pada suatu hari, ia dipanggil oleh Mbok Rhanda.

�Jaka tarub anakku, Mbok rasa kamu sudah dewasa dan telah siap untuk menikah. Lekaslah menikah le, Mbok ingin melihatmu bahagia� kata ibu angkatnya.
�Jaka belum ingin menikah Mbok,� jawab Jaka Tarub.
�Tapi siapa yang akan mengurus kamu le, jika si mbok sudah tiada lagi,� kata ibu angkatnya.
�Hush, jangan bicara seperti itu Mbok, Jaka akan terus mendoakan mbok supaya sehat selalu,� kata Jaka.

Keesokan harinya Jaka Tarub melihat Mbok Rhanda masih terbaring di tempat tidur, lalu ia mendekat ke  arah ibu angkatnya itu dan dipegangnya tubuh itu ternyata terasa panas.

�Mbok sakit ?� tanya Jaka Tarub
�Mbok tidak apa � apa ko le,� jawab si mbok dengan nada yang pelan.
�Kalau begitu mbok tunggu di sini, Jaka akan membawakan mbok hati rusa untuk obat,� kata Jaka.

Maka berangkatlah Jaka menuju hutan untuk mencari hati rusa. Ia terus mencari hingga masuk ke dalam tengah hutan. Tetapi, tak satu pun rusa yang ditemukannya. Jaka Tarub lalu beristirahat di sebuah batu besar yang ada di sana.

Ketika ia tengah beristirahat, terdengarlah sayup � sayup suara sekumpulan wanita yang tengah tertawa bersuka ria.�Suara siapakah gerangan itu? apakah suara manusia ? Tapi rasanya tidak mungkin, hutan ini sangat jauh dari pemukiman penduduk,� gumam Jaka Tarub heran. 

Kemudian dia mengintip dari sela � sela batu itu dan takjub melihat beberapa orang wanita yang sangat cantik sedang mandi di telaga. Dia pun mengendap � endap dan mengambil salah satu selendangnya, lalu bersembunyi.

Tidak beberapa lama setelah itu, Salah seorang bidadari tertua keluar dan mengajak bidadari yang lainnya untuk segera pulang ke kayangan. Kemudian satu persatu bidadari itu mengambil selendangnya dan terbang ke langit.

Namun, salah satu bidadari tidak bisa menemukan selendangnya dan ditinggal oleh kakak � kakaknya sendirian di hutan. kemudian bidadari itu menangis meratapi nasibnya. Ketika ia tengah menangis, Jaka Tarub datang menolongnya, lalu mereka berdua berkenalan. 

�Mengapa kamu menangis ? aku adalah Jaka Tarub siapakah gerangan namamu ?� tanya Jaka.
�Aku adalah Nawang Wulan, Aku ditinggal oleh kakak � kakakku sendirian di hutan,� jawab Nawang Wulan.

Advertisement
Setelah mereka berkenalan, Jaka Tarub mengajak Nawang Wulan pulang ke rumahnya. Namun, setelah sampai di rumah, Mbok Rhanda telah meninggal dunia. Dia pun merasa sedih dengan kepergian ibu angkatnya itu. 

Sejak kematian Mbok Rhanda, Jaka Tarub tinggal bersama Nawang Wulan, hingga akhirnya mereka berdua menikah. Kehidupan Jaka tarub kembali bahagia setelah pernikahan itu. Terlebih lagi, setelah mereka berdua dikaruniai seorang putri cantik yang diberi nama Nawangsih, kehidupan Jaka Tarub semakin lengkap.

Pada suatu hari, ketika Nawang Wulan hendak pergi ke kali, dia berpesan kepada Jaka Tarub untuk menjaga nasi yang sedang ia tanak, tetapi jangan sekali � kali membuka tutup tempayan itu. Kemudian, berangkatlah Nawang Wulan menuju kali. Jaka Tarub merasa heran mengapa ia tidak boleh membuka tempayan itu, lalu dia melanggar janjinya dan membukanya.

Setelah dibuka, ternyata Jaka Tarub melihat setangkai padi. Barulah ia menyadari bahwa selama ini istirnya memiliki kekuatan dengan memasak hanya setangkai padi tetapi menghasilkan nasi satu bakul penuh. Sejak saat itu, kesaktian Nawang Wulan menghilang karena rahasianya telah diketahui.

Sejak saat itu, Nawang wulan harus mengambil padi dan menumbuknya terlebih dahulu sebelum memasak. Pada suatu hari, ketika ia ingin mengambil padi di lumbung, dia menemukan selendangnya yang hilang di tumpukan jerami.

Melihat selendang itu, Nawang Wulan mengambilnya dan pergi menemui Jaka Tarub. Dia merasa kecewa kepada suaminya itu dan pergi meninggalkan suami dan anaknya kembali ke kayangan. Tetapi sebelum pergi, Nawang Wulan berpesan kepada suaminya untuk dibuatkan sebuah danau lalu ia juga meminta untuk meletakkan Nawangsih di sana setiap malam untuk dsusuinya.

Setelah kepergian Nawang Wulan, Jaka Tarub membuat sebuah danau dan meletakkan Nawangsih untuk disusuinya setiap malam. Sejak saat itu, Nawangsih selalu bertemu ibunya dan bermain bersamanya tiap malam di danau itu. Tetapi Jaka Tarub tidak diperbolehkan mendekat.

Demikianlah kejadian itu terus berlangsung hingga Nawangsih tumbuh menjadi gadis remaja. Meskipun begitu, Nawang Wulan tetap menjaga mereka dari atas kayangan dan selalu membantu mereka jika sedang berada dalam masalah.     
Read More
Cerita Rakyat Si Pitung Singkat & Jelas Terbaik

Cerita Rakyat Si Pitung Singkat & Jelas Terbaik

Cerita Rakyat Si Pitung Singkat & Jelas Terbaik - Di bawah ini adalah Cerita Rakyat Tentang seorang pahlawan pembela orang yang lemah dari Betawi.


Si Pitung dari Betawi

Pada jaman penjajahan Belanda dahulu, hiduplah seorang pemuda yang sangat gagah dan kuat yang bernama Pitung. Dia sangat terkenal di seluruh daerah Betawi karena kesaktiannya yang konon tidak bisa dilukai oleh senjata apapun. Disamping itu, dia juga terkenal dengan akhlak yang sangat baik. Si Pitung suka beribadah kepada tuhan dan suka menolong orang � orang yang lemah.

Pada suatu hari, dia melihat menir Belanda menyiksa para warga desa. Menir itu memeras warga desa dengan meminta bayaran upeti yang sangat mahal. Melihat kejadian ini, Si Pitung merasa bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menolong para warga desa. Kemudian, dia bertemu dengan orang yang memiliki keinginan yang sama dengan Si Pitung. Mereka adalah Rais dan Ji�i. 

Maka berangkatlah mereka bertiga melaksanakan tujuannya tersebut. Mereka melawan para menir dan pribumi yang berpihak ke pada Belanda. Mereka juga merampok harta � harta mereka dan membagikannya kepada seluruh warga desa.

Semakin lama, Si Pitung dan kawan � kawannya semakin terkenal. Mereka terus melakukan aksinya untuk menolong orang � orang yang lemah. Para menir belanda merasa terusik dengan aksi Si Pitung dan kawan - kawannya, lalu mereka menyewa para ahli silat untuk mencari dan membunuh Si Pitung.
Namun, semua itu sia � sia. Si Pitung dan kawannya berhasil mengalahkan para jagoan silat itu dan merampas harta tuannya. Karena mereka tidak kuat lagi melawan Si Pitung dan temannya, mereka melapor dan meminta bantuan kepada pemerintah Belanda. 

Advertisement
Berangkatlah pasukan Belanda itu untuk menghabisi Si Pitung. Namun, lagi � lagi Si Pitung berhasil membunuh mereka semua karena kesaktiannya yang tidak mempan terhadap peluru. Mengetahui Si Pitung sangatlah berbahaya, Pemerintah Belanda mencari akal untuk membunuh Si Pitung dan teman � temannya.

Karena kehabisan akal, akhirnya pemerintah Belanda melakukan perbuatan yang sangat licik. Dia menangkap orang tua dan guru Si Pitung dan memenjarakan mereka di sebuah tempat. Di penjara itu, mereka terus di siksa untuk memberi tahu keberadaan Si Pitung dan kelemahannya. Namun, orang tua dan guru Si Pitung tidak mau memberi tahu apa � apa kepada mereka. 

Mendengar orang tua bersama gurunya di tangkap dan di siksa oleh Belanda, akhirnya Si Pitung memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Belanda dengan syarat orang tua dan gurunya dapat di bebaskan. Setelah itu, Si Pitung pun ditangkap dan dipenjarakan dengan penjagaan yang amat sangat ketat. Meskipun begitu, mereka yang berniat untuk menghukum mati Si Pitung belum bisa melaksanakannya karena Si Pitung masih memiliki ilmu kebal. Namun, belum sempat melaksanakan rencana itu, Si Pitung berhasil meloloskan diri dan bersembunyi. 

Pemerintah Belanda sangat kesal dan dibuat kewalahan oleh aksi Si Pitung ini. Mereka pun menyebarkan mata � matanya ke seluruh Betawi untuk mencari tahu keberadaan Si Pitung dan teman � temannya.  

Akhirnya berkat mata � matanya itu Belanda mengetahui keberadaan dan kelemahan Si Pitung, yaitu tubuh Si Pitung akan kehilangan kekuatannya apa bila dia terkena telur busuk. Pemerintah Belanda menyiapkan ratusan prajurit dan telur busuk yang banyak. Kemudian, mereka pun menyergap tempat persembunyian Si Pitung. 

Terjadilah pertempuran yang sangat sengit dan tidak berimbang. Si Pitung dan teman � temannya dihujani peluru oleh Belanda, sehingga banyak pengikutnya yang mati. Namun, hal itu tidak terjadi pada Si Pitung. Dia terus melawan dengan goloknya membunuh para tentara belanda. 

Karena kalah jumlah Si Pitung terkepung, lalu para prajurit itu melemparkan telur busuk ke arah tubuh Si Pitung dan menghujaninya dengan tembakan. Akhirnya Si Pitung mati. Kabar tentang kematian Si Pitung ini menyebar dengan sangat cepat. Para menir dan antek � anteknya merasa senang dengan kejadian ini. Sementara itu, para warga Betawi merasa sedih karena kehilangan pahlawannya.   
Read More
Legenda Cerita Rakyat Batu Menangis Terbaru

Legenda Cerita Rakyat Batu Menangis Terbaru

Legenda Cerita Rakyat Batu Menangis Terbaru - Cerita Rakyat tentang anak yang dikutuk oleh ibunya, ternyata tidak hanya terjadi di daerah Sumatera Barat saja, tetapi di daerah Kalimantan pun terdapat sebuah cerita yang mengisahkan tentang kedurhakaan seorang anak terhadap ibunya. Bagaimanakah kisahnya ? Berikut ini adalah cerita rakyat Batu Menangis dari Kalimantan.  

Legenda Batu Menangis

Alkisah pada jaman dahulu di sebuah desa kecil di pedalaman Kalimantan, hiduplah seorang janda tua bersama dengan seorang putrinya. Mereka hidup bersama karena telah ditinggal mati oleh sosok ayah, sehingga janda tua itu harus bekerja dengan sangat keras demi menghidupi dirinya dan putri satu � satunya itu.

Putri janda itu sangatlah cantik jelita, sayangnya dia memiliki perangai yang buruk. Dia tidak pernah mau bekerja membantu ibunya.  Sepanjang hari dia hanya sibuk berdandan. Bahkan dia selalu menuntut ibunya, dan jika tidak di penuhi dia akan menangis. Namun, bagaimanapun juga wanita itu sangat menyayangi putrinya. 

Pada suatu hari, dia minta dibelikan sebuah baju baru kepada ibunya. Pada awalnya ibunya menolak, karena tidak memiliki uang. Namun, anak itu terus menuntut ibunya dan menangis sejadi � jadinya. 

�Ibuu pokoknya aku mau dibelikan baju baru,� rengek anak itu.
�Tapi ibu tidak ada uang Nak, pakai saja pakaian lama mu," kata ibunya.
�Tidak mau, ibu harus mencari uang untuk membelikan ku baju baru,� tambahnya.

Akhirnya, janda tua itu harus membanting tulang lebih giat lagi demi mendapatkan uang itu. Setelah beberapa hari bekerja, kini dia telah mengumpulkan uang itu. Dia pun merasa gembira, karena atas kerja kerasnya dia bisa memenuhi permintaan putrinya.

Keesokan harinya dia mengajak putrinya pergi ke pasar untuk membelikannya baju baru. Betapa senang hati anaknya karena permintaannya di turuti, lalu dia meminta ibunya untuk menunggu, sementara dirinya hendak bersolek terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, dia keluar dari kamarnya dengan baju yang bagus dan dandanan yang cantik. Hal ini berbeda dengan penampilan ibunya yang hanya memakai pakaian kumal dan kotor. 

Advertisement
Kemudian, pergilah mereka berdua ke pasar yang jaraknya cukup jauh dengan berjalan kaki. Namun, dia tidak mau berjalan berdampingan dengan ibunya, sehingga anak itu berjalan sendirian, sementara ibunya ditinggal di belakang. Ketika sampai di pasar, kecantikan putri janda itu benar � benar menarik perhatian orang � orang yang ada di sekitarnya. Mereka memperhatikan gadis itu dengan seksama karena tertegun dengan kecantikan dirinya. Namun, ketika mereka melihat seorang wanita tua dibelakangya, mereka menjadi heran dan bingung. 

Anak gadis itu menyadari bahwa dia sedang diperhatikan oleh orang � orang. Dia pun senang dan mempercepat langkahnya karena dia malu jika orang �orang mengetahuinya bahwa dia sedang berjalan dengan ibunya. Ketika dia melewati sekumpulan pemuda, dia ditegur oleh seseorang diantara mereka.

�Hey gadis, kau sangat cantik dengan pakaianmu itu. Tetapi siapakah gerangan wanita tua de belakangmu itu? Apakah dia adalah ibumu,� kata salah seorang diantara mereka.
�Bukan, dia bukan ibuku,� kata gadis itu mempercepat langkahnya meninggalkan ibunya di belakang. 

Mendengar perkataan anak gadisnya itu, dia sangat sedih. Namun, janda itu tetap memaafkan anaknya. Kejadian ini terus berlangsung, ketika dia melewati beberapa orang dan dia tetap menjawab bahwa wanita itu bukanlah ibunya.

Hingga suatu saat, dirinya bertemu dengan seorang pemuda tampan. Dia pun menanyai hal yang sama dengan orang lain.

�Cantik, siapakah gerangan wanita tua itu ? Apakah dia ibumu,� katanya.
Karena dia takut ketahuan, dia pun menjawab, �Bukan dia bukan ibuku, Dia hanya pembantuku saja. Mana mungkin wanita secantik ku punya ibu yang jelek sepertinya,� 

Kali ini wanita tua itu sudah tidak tahan lagi dengan perbuatan anaknya itu, Dia pun menangis dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

�Y tuhan, mengapa anakku begitu tega dengan diriku. Hamba tidak kuat lagi dengan hinaan ini. Ya tuhan hukum saja dirinya,� kata wanita itu sambil menangis. 

Tak beberapa lama setelah itu, muncul keanehan pada diri anaknya. Perlahan � lahan tubuh bagian bawahnya mengeras menjadi batu dan terus bergerak ke bagian atas tubuhnya. Mengetahui keadaan ini, anak itu sadar dan menangis. Dia menyesali perbuatan dirinya itu. 

�Ohh ibu, ampunilah saya, aku tidak mau menjadi batu,� kata anak gadis itu sambil menangis dengan sangat keras. Tetapi semua itu telah terlambat, kini tubuh anak gadis itu telah membatu seluruhnya. Namun, batu itu terus mengeluarkan air mata hingga saat ini. Orang � orang yang melihat kejadian itu akhirnya menamai batu itu batu menangis. 
Read More
Legenda Cerita Rakyat Rawa Pening Terbaru

Legenda Cerita Rakyat Rawa Pening Terbaru

Legenda Cerita Rakyat Rawa Pening Terbaru - Di daerah Jawa Timur ada sebuah cerita rakyat yang mengisahkan tentang terjadinya Rawa Pening. Berikut ini adalah kisahnya.

Legenda Cerita Rakyat Rawa Pening

Pada Jaman dahulu kala, hiduplah seorang naga yang sangat sakti yang bernama Baru Klinting. Ketika dia tengah bersemedi di dalam hutan, Baru Klinting ditemukan oleh orang � orang Desa Ngebel yang sedang melakukan perjalanan untuk mencari binatang sebagai bahan santapan mereka di desa. Tanpa pikir panjang lagi, seluruh warga desa membunuh Baru Klinting dan memotong � motong tubuhnya untuk diambil bagian dagingnya dan di bawa ke desa.

Sesampainya di desa, mereka mengadakan pesta yang sangat besar selama 3 hari 3 malam. Seluruh warga desa menghadiri acara itu dan menyantap daging Baru Klinting yang sudah dimasak sebelumnya. Namun, ada satu warga yang tidak menghadiri dan menyantap daging Baru Kliting. Dia adalah seorang nenek tua yang bernama Nyai Latung.

Pada hari ke 3 pelaksanaan pesta itu, muncullah seorang anak laki � laki. Dia terlihat sangat kotor dan tidak terawat, sehingga dia terlihat seperti pengemis. Kemudian ia berjalan menyusuri desa itu dengan perut yang sangat kelaparan. Dia ketuk semua pintu rumah warga desa itu untuk meminta makanan, tetapi tidak ada satu pun yang membukakan pintunya, bahkan ada sebagian warga desa yang mengusirnya dengan kasar.

Meskipun begitu, dia tidak berputus asa, hingga akhirnya dia tiba di sebuah rumah yang telah reyot milik Nyai Latung.

�Permisi Nek, aku sangat lapar. Apakah Nenek bisa memberi ku makanan ?� pinta anak itu. Nyai Latung yang merasa iba dengan anak itu pun menjawab, �Tapi nenek hanya ada nasi tanpa lauk.�
�Tidak apa Nek, aku akan menerimanya dengan senang hati,�  jawab anak itu.

Kemudian Nyai Latung memberi anak itu sepiring nasi untuk dimakan olehnya. Lantas dengan segera anak itu memakan nasi tersebut dengan sangat lahap. Saat ia telah selesai makan, Nyai Latung menanyakan ia tentang asal - usulnya.

�Aku adalah seorang pengembara. Aku tidak memiliki orang tua, apalagi sudara,� jawab anak itu.
�Kalau begitu, tinggal saja dengan nenek di sini,� kata Nyai Latung membujuk anak itu.

Advertisement
�Maaf, Aku tidak bisa Nek, Aku harus melanjutkan perjalananku ini. Namun, sebelum aku pergi, aku akan memberi pelajaran kepada seluruh warga di sini. Sebagai tanda terimakasih Ku untuk Nenek, aku akan memberikan Nenek sebuah lesung, dan jika nanti terdengar bunyi kentongan di mana � mana, segeralah Nenek naik ke atas lesung ini.� jelas anak itu kepada Nyai Latung.

Anak itu melanjutkan perjalanannya, dan menuju ke lapangan di desa tempat para warga tengah berkumpul. Kemudian, dia mengatakan kepada penduduk desa itu bahwa di desa ini tidak ada yang lebih kuat dibanding dirinya. Sontak saja semua warga desa marah dan berkumpul di tengah anak itu.

�Hey kau anak kecil. Berani sekali kau mengatakan itu. Awas kau nanti akan ku hajar,� kata seseorang di antara mereka. �Jika kalian memang kuat, maka cabutlah lidi ini dari tanah,� kata anak itu.

Lantas anak itu menancapkan sebatang lidi ke dalam tanah dan mempersilakan mereka untuk mencobanya. Satu persatu, warga desa itu bergantian untuk mencabutnya. Pria, wanita, anak � anak maupun orang dewasa telah berusaha untuk mencabut lidi tersebut dan ternyata tak seorang pun yang bisa.

�Lihatlah, memang tidak ada satu pun orang yang kuat di desa ini,� ejek anak itu.
�Sialan kau, Coba saja sendiri cabut lidi itu. Apakah kamu juga bisa melakukannya,� kata mereka.

Dengan segera anak itu mencabut lidi yang ia tancapkan di dalam tanah, lalu keanehan mulai terjadi di tempat itu. Lubang bekas tancapan lidi itu mengeluarkan air yang cukup deras. Pada awalnya mereka senang karena di desa mereka muncul sumber mata air. Namun, air itu tidak mau berhenti dan semakin deras membanjiri desa itu dengan sangat cepat. Kepanikan pun terjadi di mana � mana. Nyai Latung yang mendengar bunyi kentongan itu segera naik ke atas lesung pemberian anak itu.

Benar saja, tidak butuh waktu lama air itu telah menenggelamkan desa dan seluruh penduduknya, kecuali Nya Latung yang berhasil selamat berkat pertolongan anak itu. Anak laki � laki misterius itu ternyata adalah jelmaan Baru Klinting yang telah mereka bunuh sebelumnya, lalu ia menghilang entah kemana. Kini desa itu menjadi sebuah rawa yang disebut dengan rawa pening di daerah Jawa Tengah.  
Read More
Legenda Cerita Rakyat Dewi Sri Terbaik

Legenda Cerita Rakyat Dewi Sri Terbaik

Legenda Cerita Rakyat Dewi Sri Terbaik - Di dalam kisahnya, Dewi Sri digambarkan sebagai dewi padi yang dianggap sebagai dewi yang memberikan penghidupan di muka bumi ini. Lalu, bagaimanakah kisah tersebut ? Berikut ini adalah cerita rakyat tentang Dewi Sri yang berasal dari Sunda, Jawa Barat.

Cerita Rakyat Dewi Sri

Alkisah pada jaman dahulu, diceritakan bahwa Dewi Sri Pohaci Long Kancana diutus oleh Sunan Ibu, penghuni taman surga yang disebut Taman Sorga Loka untuk pergi ke Bumi dan memberikan Cihaya, yang disebut dengan kelengkapan hidup di muka bumi. Maka berangkatlah dia dengan 
ditemani oleh Eyang Prabu Guruminda. 

Sebelum mereka berangkat ke bumi, Eyang Prabu Guruminda mendapat petunjuk dari Hiang Dewananta yang memintanya untuk merubah Dewi Sri Pohaci Long Kancana menjadi seekor telur. Dengan kesaktiannya yang mandraguna, dia merubah Dewi Sri Pohaci Long Kancana menjadi sebutir telur emas dan kemudian ia memasukkannya ke dalam sebuah kotak yang bernama Cupu Gilang Kencana. 

Setelah itu, barulah Eyang Prabu Guruminda pergi menuju bumi dengan membawa Dewi Sri Pohaci Long Kancana yang disimpan di dalam kotak. Mereka terbang ke seluruh penjuru bumi dari utara ke selatan dan dari barat ke timur. Untuk memberikan Cihaya kepada bumi. Namun, di perjalanan mereka, kotak itu terbuka dan Dewi Sri Pohaci Long Kancana terjatuh ke bumi. 

Telur itu lalu ditemui oleh Dewa Anta yang sedang bersemedi. Saat ia mengetahui bahwa di tempatnya ada sebuah telur yang terjatuh dari langit, Dewa Anta mengambilnya dan menjaga telur tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya, telur itu menetas dan keluarlah seorang anak perempuan yang sangat cantik nan rupawan. Lalu, anak tersebut diberi nama Dewi Sri.

Hari semakin berganti, Dewi Sri tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Bahkan kecantikannya tiada bandingan di dunia ini. Kabar tentang kecantikan Dewi Sri pun tersebar ke seluruh penjuru bumi. Hal ini membuat seluruh raja di muka bumi ini datang kepada Dewa Anta untuk melamar dan menjadikan ia permaisuri mereka. Meskipun begitu, Dewi Sri tidak merasa senang karena dia sadar dirinya berada di sini adalah untuk menjalankan perintah memberikan Cihaya kepada bumi ini. Oleh karena itu, dia tidak mau mengingkari janjinya dan menolak semua lamaran itu.  

Advertisement
Namun tetap saja, para raja tersebut tidak menghentikan niatnya meski telah ditolak berkali � kali oleh Dewi Sri. Bahkan jumlah mereka yang melamar Dewi Sri kini semakin banyak. Pada akhirnya Dewi Sri merasa tertekan dan jatuh sakit. Semakin hari, penyakit Dewi Sri semakin parah, hingga ia akhirnya tidak bisa berdiri lagi dan meninggal dunia. Dewi Sri pun kemudian disemayamkan di sebuah tanah lapang.

Namun, keanehan terjadi pada tempat persemayaman Dewi Sri  itu. Tepat di atas pembaringannya, tumbuh tumbuhan yang aneh, yaitu tumbuhan yang panjang berdaun hijau yang di atasnya dipenuhi dengan buah yang menjuntai hingga ke bawah.

Pada suatu hari, tumbuhan itu ditemukan oleh sepasang suami istri yang sedang melintas. Mereka merasa heran dengan tumbuhan yang mereka temui itu. Kedua pasang suami itu juga kagum dengan buah berwarna hijau yang banyak dan menjuntai yang tidak pernah mereka temui sebelumnya. Lalu, mereka merawat tumbuhan itu dengan sangat baik. Setelah sekitar enam bulan, tumbuhan itu berubah menjadi semakin indah dengan buah yang kuning dan semakin merunduk.

Mereka berdua termenung karena takjub akan keindahan itu, lalu mereka memetik buah itu dan mencicipinya. Ternyata buah itu terasa manis, lalu mereka memutuskan untuk menebas pohon tersebut, dan ketika ditebas pohon tersebut mengeluarkan aroma yang sangat wangi. Karena mereka menyesal telah memotong tanaman itu, mereka kembali menanam buah itu di dekat pusara Dewi Sri. Tidak disangka � sangka keajaiban itu terjadi, buah yang ditanam tersebut tumbuh dengan subur dan sangat cepat, sehingga mereka bisa memanennya dan dijadikan bahan makanan. Hingga sekarang tumbuhan itu masih ditanam oleh orang � orang bumi dan disebut dengan tumbuhan padi. 
Read More