Showing posts with label Sosiologi. Show all posts
Showing posts with label Sosiologi. Show all posts
Contoh Penyakit Sosial Akibat dari Perilaku Menyimpang & Penjelasannya

Contoh Penyakit Sosial Akibat dari Perilaku Menyimpang & Penjelasannya

Contoh Penyakit Sosial Akibat dari Penyimpangan Sosial dan Penjelasannya - Perilaku menyimpang terutama yang bersifat negatif jika dibiarkan secara terus menerus akan menciptakan kebiasaan berperilaku seseorang atau kelompok di dalam masyarakat.

Kita sebagai aggota masyarakat yang berbudi luhur seharusnya tidak melakukan berbagai penyimpangan tersebut, karena seperti yang kita tahu, hal itu merugikan banyak pihak dan akan memunculkan kebiasaan baru yaitu suatu penyakit yang dinamakan penyakit sosial.

Contoh Penyakit Sosial Akibat dari Perilaku Menyimpang
Original image : wikipedia.org

Kenapa bisa dinamakan suatu penyakit ?

Untuk menjawabnya, kita bisa melakukan pengandaian. Anggap saja masyarakat itu tubuh manusia, di mana keadaan masing-masing organ akan mempengaruhi kondisi kesehatan. Sama halnya di masyarakat, perilaku dari masing-masing orang yang merupakan bagian dari masyarakat akan menentukan keadaan masyarakat itu sendiri.

Jadi, apa itu penyakit sosial ?

Penyakit sosial adalah berbagai bentuk kebiasaan berperilaku sejumlah warga masyarakat yang kurang/tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang mempengaruhi kehidupan sosial warga masyarakat sehingga menghasilkan berbagai perilaku menyimpang. 

Yang namanya penyakit tentu akan lebih baik bila kita mencegahnya daripada kita mengobatinya. Jika penyakit sosial ini sudah terbilang kronis, maka akan sangat susah untuk disembuhkan.

Adapun berbagai contoh penyakit sosial yang perlu kita hindari antara lain yaitu :

Contoh Penyakit sosial yang Ada di Lingkungan Sekolah


1. Kenakalan Remaja


Menurut Prof. Dr. Fuad Hasan, kenakalan remaja adalah perilaku antisosial yang dilakukan oleh remaja yang jika dilakukan oleh orang dewasa dapat dikategorikan sebagai tindak kejahatan. Pengertian lain dari kenakalan remaja yaitu bentuk aktivitas sekelompok remaja yang tidak sesuai dengan nilai dan norma.

Contoh dari kenakalan remaja yaitu :
  • Berpacaran : Saat ini banyak dari pelajar Indonesia yang menjalin hubungan dengan lawan jenis. Hal ini sebenarnya termasuk ke dalam penyimpangan dari norma agama dan sosial, dimana pelajar yang harusnya belajar malah menjalin asmara dengan lawan jenis.
  • Tawuran Pelajar : Tawuran pelajar berbeda dengan perkelahian satu-satu. Tawuran dilakukan oleh kelompok pelajar yang biasanya dilakukan dengan pelajar dari sekolah lain. Tawuran pelajar sangat berlawanan dengan norma agama dan sosial, dimana rasa persaudaraan antar pelajar telah hilang di antara mereka. Anehnya, tawuran pelajar dapat dipicu dari hal-hal sepele dan tidak penting yang kemudian dibesar-besarkan hingga timbul konflik berkepanjangan. Tawuran merupakan perilaku menyimpang karena bersifat merusak, menyakiti orang lain, menganiaya, cacat permanen bahkan membunuh. Sungguh menjadi ironi bangsa ini, bukannya menjadi pelajar yang berkualitas membangun negerinya, malah menjadi momok dan sampah masyarakat.
  • Pornografi : Perilaku menyimpang ini masih kerap dilakukan pelajar yang memiliki nilai moral yang buruk. Kecenderungan menonton video porno di internet akan mengakibatkan hal yang lebih ekstrim. Misalnya melakukan seks di kala masih pelajar, lalu menguploadnya ke internet.
  • Pemerasan : Perilaku ini biasanya dilakukan oleh pelajar yang memiliki postur tubuh lebih besar atau kakak kelas terhadap adik kelasnya. Perilaku ini masih sering dilakukan, bahkan menjadi momok yang sangat susah dihilangkan dari lingkungan sekolah. Seakan-akan menjadi budaya yang masih dilestarikan oleh pelajar di Indonesia.
  • Bullying : Kegiatan ini masih sering dilakukan pelajar Indonesia. Mengejek, menghina, merendahkan, dan jahil terhadap seseorang baik secara fisik maupun non-fisik.
Sebenarnya masih banyak hal yang bisa kategorikan sebagai kenakalan remaja, seperti bolos sekolah, menyontek, corat-coret dinding, konvoi lulusan, kebut-kebutan, dan lain-lain.

Contoh Penyakit sosial yang Ada di Lingkungan Keluarga


2. KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)


KDRT merupakan penyakit sosial yang masih sering kita jumpai di masyarakat. Di televisi banyak diberitakan seorang suami tega menganiaya istrinya, bahkan hingga berakhir pada pembunuhan.

Banyak faktor yang menyebabkan KDRT, misalnya karena selingkuh, ekonomi buruk, poligami, sikap egois yang tinggi atau kurangnya keharmonisan dalam rumah tangga.

Contoh Penyakit Sosial yang Ada di Lingkungan Masyarakat


3. Perjudian

Sobat, masih ingatkah lagunya Bang Haji Rhoma Irama ?
............... aku melarat karena judi 2x, judi yang membawaku mati 2x.......
judi, judi..........
Dari lagu itu kita bisa menarik kesimpulan bahwa judi itu membawa kesengsaraan. Tidak ada orang yang bahagia karena judi, yang ada hanyalah penyesalan.

Namun, anehnya kegiatan buruk ini tetap saja dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Berbagai jenis perjudian telah aja sejak dulu, mulai dari yang tradisional hingga modern pun masih digemari masyrakat saat ini.

Contoh dari perjudian tradisional yaitu sabung ayam, adu jengkerik, dadu kopyok, main gaple/domino, beli nomor togel, dan taruhan. Adapun contoh perjudian modern yaitu bermain casino, perjudian online lewat internet, taruhan balap mobil atau motor, dan masih banyak lagi.

Semua jenis kegiatan itu sengaja dilakukan dengan harapan bisa memperoleh hasil yang lebih. Mengadu nasib atau keberuntungan melalui permainan atau taruhan yang hasilnya tidak pasti. Parahnya lagi, kegiatan judi lebih sering dilakukan oleh masyarakat golongan menengah ke bawah. Bukannya semakin kaya, yang ada malah semakin miskin.

4. Menggunjing

�Pantes aja anaknya kaya gitu, orang bapaknya juga tukang mabok-mabokan�, �Ih, dia kok kelakuannya kayak gitu ya, buruk banget perbuatannya�. Hal yang seperti inilah yang dinamakan menggunjing.

Membicarakan aib orang lain sudah sangat sering kita jumpai di masyarakat. Bagaimana si A berbincang-bincang dengan si B mengenai permasalahan tertentu, namun disertai keburukan-keburukan si C. Padahal diri mereka sendiri belum tentu lebih baik daripada orang yang mereka bicarakan.

Dalam norma agama kita telah diatur untuk tidak melakukan perbuatan ini, karena bagaimanapun, orang yang menggunjing sama saja dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.

5. Meminum Minuman Keras (Miras)

Minuman keras adalah minuman yang mengandung alkohol dan mampu menimbulkan berbagai hal yang negatif bagi yang meminumnya. Kegiatan meminum minuman keras sering kita sebut dengan �mabuk-mabukan�.

Sebenarnya, alkohol itu digunakan untuk dunia medis, bukan untuk dikonsumsi. Misalnya untuk membunuh kuman/bakteri pada luka, mencuci alat-alat operasi, mensterilkan peralatan medis dan ruang praktik.

Karena hal itulah, orang yang meminum miras akan dengan mudah tidak sadarkan diri, terlena dan hilang kesadaran. Banyak juga kasus kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan atau perampokan yang di awali dari mabuk. Orang yang mabuk secara otomatis akan hilang kendalinya/tidak stabil emosinya sehingga tanpa sadar melakukan hal ekstrim yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

6. Kriminalitas

Tindak kejahatan atau kriminalitas adalah perbuatan yang melanggar hukum dan norma yang berlaku di masyarakat sehingga akan berakibat pada penyimpangan undang-undang pidana. Kejahatan bisa dilakukan oleh siapa saja, baik pria maupun wanita. Biasanya, orang yang melakukan tindak kejahatan adalah orang-orang yang jauh dari nilai moral dan norma agama.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindak kejahatan seperti kurangnya iman, keadaan lingkungan, keadaan ekonomi (kemiskinan), dendam, dan lain sebagainya.

Tingkat kejahatan lebih banyak kita temukan di perkotaan, di mana kepekaan sosialnya lebih sedikit dibandingkan dengan masyarakat di pedesaan.

Beberapa contoh dari tindak kejahatan (kriminalitas) yaitu pemerkosaan, penganiayaan, pembunuhan, pencurian, dan perampokan.

Masih banyaknya berita mengenai tindak kejahatan di televisi menyimpulkan bahwa kriminalitas adalah penyakit sosial yang belum bisa teratasi. Dan masih menjadi permasalahan yang menjadi tanggungan pemerintah.

7. Penyalahgunaan Narkotika dan Obat-obatan Terlarang (NARKOBA)

Sama seperti miras, NARKOBA juga sebenarnya digunakan untuk keperluan medis bukan untuk dikonsumsi. Dalam dunia medis, narkotika dan obat-obatan terlarang dimanfaatkan untuk proses operasi, menjahit luka, pertolongan pasca persalinan bagi ibu-ibu, amputasi anggota badan karena infeksi dan kasus lainnya agar pasien tidak merasa sakit berlebihan.

Penggunaan yang sesuai dengan pengawasan dokter dan dosis yang tepat tentu akan sangat bermanfaat bagi pasien.

Jika obat-obatan tersebut dipakai oleh seseorang, dengan takaran dosis yang tidak sesuai, maka dapat mengakibatkan penurunan kesadaran, ingatan terganggu, imajinasi atau halusinasi berlebihan, dan lama kelamaan akan merusak jaringan tubuh seperti susunan syaraf, panca indera, jantung, hati, ginjal, pankreas, sel-sel rambut, sel kulit, dan bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Narkotika dibuat dari jenis tanaman tertentu, nah berikut adalah beberapa contoh dari narkotika :
  • Candu atau opium berasal dari tanaman papaver somniverum.
  • Morfem dan Heroin.
  • Kokain berasal dari tanaman erithroxylon coca.
  • Ganja atau Mariyuana berasal dari tumbuhan canabis sativa yang banyak tumbuh di daerah tropis.
  • Kofein dihasilkan dari kopi.
  • Nikotin, terkandung dari tembakau.
  • Shabu-shabu.
  • Ekstasi
Menurut hasil penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Dr. Graham Baliane, seorang psikiater menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan seorang remaja menggunakan narkotika, yaitu :
  • Membuktikan keberaniannya dalam melakukan hal-hal yang berbahaya;
  • Menunjukkan tindakan yang menentang orang tua, guru dan norma sosial;
  • Mempermudah penyimpangan perilaku seks;
  • Melepaskan diri dari kesepian;
  • Mencari dan menemukan jati diri;
  • Mengisi kekosongan;
  • Menghilangkan frustasi dan kegelisahan hidup;
  • Mengikuti teman karena tidak ingin dikatakan sebagai pecundang;
  • Sekadar iseng dan dorongan rasa ingin tahu.
Seseorang yang menggunakan NARKOBA akan memiliki penampilan dan kepribadian yang berbeda dengan anak normal. Perilaku yang bisa dilihat misalnya mudah tersinggung, mudah melawan terhadap orang tua atau guru, melanggar tata tertib, melamun, suka mengancam, dan memiliki komunitas pergaulan sendiri.

Jika seseorang menggunakan NARKOBA, maka dia telah membuang masa depannya. Sebagai generasi muda, kita harus menghindari NARKOBA. Memilih teman yang  baik, membiasakan perilaku yang baik, meningkatkan keimanan adalah benteng supaya kita tidak terjerumus ke hal-hal semacam itu.
Katakan �Say NO to DRUG�S ! �

8. Perilaku Seks di Luar Nikah (perzinahan) 

Tujuan dari melakukan pernikahan salah satunya adalah untuk mengatur hubungan manusia yang memiliki jenis kelamin berbeda dalam melaksanakan reproduksi demi kelangsungan hidup manusia secara syah dan baik. Tanpa pedoman pernikahan, tatanan dan nilai sosial akan menjadi sangat buruk.

Orang-orang bisa saja melakukan seks dengan bebas. Hal ini tentu sangat tidak diinginkan.

Beberapa suku bangsa, temasuk di Indonesia menganggap pernikahan sebagai sesuatu yang sakral sehingga perlu dilakukan upacara yang meriah, pesta, undangan, dan ritual adat yang penuh dengan aturan.

Seiring perkembangan zaman (dikarenakan globalisasi), masyarakat perkotaan bahkan desa sudah berbaur dengan pornografi. Bergesernya nilai dan norma masyarakat tersebut memicu perilaku seks di luar nikah, yang berdampak pada bentuk penyimpangan lainnya. Misalnya hamil di luar nikah, praktik aborsi, poligami, pembunuhan terhadap bayi, perdagangan bayi dan anak.

Perilaku seks di luar nikah akan sangat merugikan, terutama bagi perempuan karena tidak memiliki jaminan perlindungan hukum yang syah, misalnya hak-hak istri dan anak yang dilahirkannya.

Anehnya, perilaku ini selalu ada dan masih banyak di jumpai di lingkungan masyarakat, baik di desa maupun di kota.

9. Homoseksual

Homoseksual adalah bentuk perilaku yang menjijikan, dimana seseorang lebih tertarik kepada sesama jenis. Seorang pria tertarik dengan pria lain dan menjalin hubungan layaknya dengan lawan jenis (disebut guy). Begitu pula dengan wanita yang hidup bersama dengan wanita lainnya dan menjadikannya sebagai pasangan seksualnya (disebut lesbi). Perilaku ini sangat bertentangan dengan tatanan sosial, terutama dalam norma agama dan norma sosial.

10. Prostitusi atau Pekerja Seks Komersial (PSK)


Prostitusi sampai saat ini masih menjadi penyakit sosial yang sangat sulit dihilangkan, bahkan menjadi penyakit yang tertua dimana dari generasi ke generasi masih terus bermunculan. Salah satu pemicu utama prostitusi yaitu kemiskinan.

Praktik haram ini umumnya berdekatan dengan tempat wisata atau hiburan. Kegiatan ini bisa dilakukan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi berkedok ekonomi yang telah membaur dalam kehidupan masyarakat.

Masyarakat yang nilai moral dan agamanya rendah, didukung oleh keadaan ekonomi yang buruk, akan sangat mudah terjerumus ke hal-hal seperti ini. Ingin dapat uang banyak tanpa bekerja keras. Mencari rezeki dengan menjual harga dirinya.

Prostitusi ini juga akan menimbulkan penyakit seperti HIV/AIDS, sivilis, raja singa dan penyakit berbahaya lainnya.

Meski pemerintah telah berupaya melakukan razia di berbagai tempat, namun nyatanya masih ada saja orang-orang yang melakukan kegiatan ini. Sungguh memprihatinkan.

Contoh Penyakit sosial Berbangsa dan Bernegara


11. Korupsi

Korupsi berasal dari bahasa latin corruptio yang berarti buruk, rusak, menggoyahkan atau memutarbalikkan.

Korupsi merupakan perilaku penyelewengan dari suatu tugas yang sengaja dilakukan untuk memperoleh keuntungan pribadi atau kelompok berupa uang atau kekayaan. Korupsi juga bisa diartikan secara umum sebagai perilaku penyalahgunaan kewajiban, jabatan, wewenang dan/atau kekuasaan secara tidak wajar dan tidak syah demi keuntungan pribadi dan berakibat pada kerugian negara.

Dalam hal ini, kita sudah sangat sering menjumpai kasus-kasus korupsi yang ada di televisi. Bagaimana seorang pejabat, petinggi negara, wakil rakyat melakukan tindak korupsi demi kepentingan pribadi tanpa memikirkan rakyat yang telah memilihnya.

Mereka yang melakukan korupsi bukanlah pemimpin ! Melainkan tikus berdasi yang hanya bisa mencuri kepercayaan rakyat. Mengubar janji-janji, namun akhirnya hanya bullshit ! Omong kosong !

Bukan hanya satu tikus, tapi banyak sekali. Seakan-akan tikus berdasi itu punya keturunan yang tak habis-habis, mati satu tumbuh seribu. Betapa parahnya keadaan Indonesia karena maraknya kasus korupsi, bahkan Indonesia termasuk kategori negara korup peringkat atas.

Namun, kita juga perlu merenungkan diri. Seandainya kita disusuh ibu untuk beli makanan, lalu terima kembalian dari penjual tapi kita mengambil kembalian itu tanpa sepengetahuan ibu, maka itu juga termasuk bentuk korupsi. Atau pada saat kita menyontek ketika ulangan, itu juga termasuk korupsi. Hal-hal seperti inilah yang menjadi bibit penyakit tindak korupsi. Jika kita membiasakan diri melakukan korupsi, maka akan memicu tindak korupsi yang lebih besar di kemudian hari. Seperti pejabat-pejabat yang gila harta tersebut.

Pemerintah, lembaga negara, dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) tidak akan bisa menyembuhkan penyakit ini secara tuntas hingga ke bibitnya. Permasalahan yang muncul hanya bisa ditindak, itu tidak akan efektif. Kita harus bisa membantu pemerintah membasmi penyakit sosial ini mulai dari diri kita masing-masing. Bagaimana kita berpikir, agar semua elemen masyarakat terbebas dari penyakit korupsi ini.

Sebenarnya masih banyak penyakit sosial yang ada di Indonesia, baik itu di dalam keluarga, sekolah, masyarakat maupun di dalam pemerintahan. Namun, mungkin itu dulu yang bisa kami paparkan.

Penyakit sosial bukan hanya menjadi tanggungan pemerintah, namun menjadi tanggungan kita juga sebagai warga masyarakat yang baik. Tanpa adanya kesadaran dari diri kita masing-masing, penyimpangan sosial tidak akan bisa disembuhkan.

Kita perlu ikut serta membangun masyarakat yang sehat, tanpa ada hal-hal yang menyimpang.

Ayo bangkit, ayo kerja !

Maju terus Indonesiaku !
Read More
Pengertian Penyimpangan Sosial, Bentuk, Faktor Penyebab dan Dampaknya

Pengertian Penyimpangan Sosial, Bentuk, Faktor Penyebab dan Dampaknya

Pengertian, Bentuk, Faktor Penyebab dan Dampak Penyimpangan Sosial - Pernahkah sobat melihat anak muda yang rambutnya disemir warna-warni, bertato, memakai tindik, merokok atau mabuk ? Apa yang sobat pikirkan mengenai mereka ? Adakah sesuatu yang janggal ?

Pengertian Penyimpangan Sosial, Bentuk, Faktor Penyebab dan Dampaknya

Ilustrasi tersebut merupakan salah satu hal yang kita anggap tidak wajar, ganjal atau di luar aturan umum yang ada di masyarakat. Tindakan yang tidak wajar inilah yang dinamakan penyimpangan sosial.

Jadi, kita bisa menyimpulkan bahwa penyimpangan sosial adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan nilai, kaidah atau norma yang berlaku dalam masyarakat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.

#1. Pengertian Penyimpangan Sosial Menurut Ahli


Sehubungan dengan itu, ada beberapa pendapat menurut para ahli mengenai penyimpangan sosial. Diantaranya yaitu :

Robert M.Z. Lawang berpendapat bahwa 
penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam masyarakat.
James W. Van der Zanden, mengungkapkan pendapatnya bahwa 
penyimpangan sosial merupakan perilaku yang oleh sejumlah orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.
Bruce J. Cohen 
setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
Menurut Ronald A. Hordert, 
Penyimpangan sosial adalah setiap tindakan yang melanggar keinginan-keinginan bersama sehingga dianggap menodai kepribadian kelompok yang akhirnya si pelaku dikenai sanksi.
Paul B. Horton
Mengutarakan bahwa penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat
Gillin
Perilaku menyimpang adalah perilaku yang menyimpang dari norma dan nilai sosial keluarga dan masyarakat yang menjadi penyebab memudarnya ikatan atau solidaritas kelompok.
Lewis Coser
Mengemukakan bahwa perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.

#2. Ciri-ciri Penyimpangan Sosial


Menurut Paul B. Horton, penyimpangan sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 
  • Penyimpangan harus dapat didefinisikan 
  • Penyimpangan relatif dan mutlak 
  • Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal 
  • Adanya norma-norma penghindaran dalam penyimpangan sosial 
  • Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan)

#3. Bentuk-bentuk Penyimpangan Sosial


Penyimpangan sosial dibedakan menjadi 2 macam/bentuk, yaitu berdasarkan kadar penyimpangan dan berdasarkan pelaku penyimpangan.

a.) Berdasarkan Pelaku penyimpangan
  • Penyimpangan Perseorangan (individu)
Penyimpangan ini dilakukan secara perorangan tanpa campur tangan pihak lain. Orang yang melakukan penyimpangan secara individu biasanya akan dianggap sebagai seseorang yang nakal, bandel, pembangkang atau pelanggar aturan. Contoh dari penyimpangan individu ini yaitu :

Oknum polisi lalu lintas yang meminta uang karena pelanggar (korban tilang) tidak mau ditilang, pejabat negara yang korupsi, munafik, dan perusuh. Siswa yang mencontek ketika ulangan, anak yang belum memiliki SIM sudah mengendarai motor atau mobil.
  • Penyimpangan Kelompok
Merupakan perbuatan yang dilakukan oleh sekelompok orang secara bersama-sama untuk melakukan penyimpangan. Contoh penyimpangan ini adalah pemuda pesta narkoba, sindikat pencurian sepeda motor, tukang begal, sekelompok preman yang memeras pedagang kaki lima, tawuran, bentrok antar warga, pesta bikini, dan lain sebagainya.
  • Penyimpangan Campuran
Penyimpangan campuran dapat diartikan sebagai golongan sosial yang memiliki organisasi terstruktur. Sehingga, individu ataupun kelompok di dalamnya taat dan tunduk kepada norma golongan dan mengabaikan norma masyarakat yang berlaku. Misalnya remaja yang putus sekolah atau pengangguran yang frustasi dari kehidupan masyarakat. Dengan seorang pemimpin, mereka bersatu ke dalam organisasi rahasia yang menyimpang dari norma umum (geng/gangster) 

b.) Berdasarkan Sifat Penyimpangan
  • Penyimpangan Positif
Perilaku yang tidak wajar yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang, namun memiliki dampak positif bagi dirinya maupun orang lain. 

Penyimpangan ini bukan sepenuhnya penyimpangan, namun lebih cenderung memiliki kesan tidak wajar. Penyimpangan positif biasanya diterima masyarakat karena sesuai dengan perkembangan zaman.

Contohnya : anak perempuan yang rambutnya menyerupai laki-laki tapi suka main bola, sopir atau kondektur perempuan, petinju wanita, binaragawan wanita, penari balet laki-laki, dan lain-lain.
  • Penyimpangan Negatif
Penyimpangan yang mengarah pada perilaku yang dipandang rendah dan berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain. Contohnya : membolos, mencontek, melanggar tata tertib, melakukan tindak kriminal.

c.) Berdasarkan Berat/Ringannya Penyimpangan
  • Penyimpangan Primer (ringan)
Penyimpangan ini termasuk ke dalam penyimpangan ringan. Penyimpangan yang seperti ini dilakukan pada saat tertentu saja (insidental) dan umumnya tidak merugikan orang lain. 

Contoh dari penyimpangan ini yaitu mencorat-coret dinding tembok, siswa terlambat ke sekolah, pengendara yang melanggar tata tertib berlalu-lintas, dan tidak taat/telat membayar pajak.
  • Penyimpangan sekunder (berat)
Penyimpangan sekunder adalah penyimpangan berat yang dilakukan berulang kali atau terus menerus dilakukan meski telah diberi sanksi.  Penyimpangan ini menjurus kepada tindak kriminal, seperti pencurian, perampokan, begal, pemerkosaan, dan pembunuhan. Maka dari itu, sudah sangat jelas perilaku penyimpangan ini merugikan orang lain. Para pelaku penyimpangan ini dapat dikenai sanksi tegas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

#4. Faktor Penyebab Penyimpangan Sosial


Penyimpangan sosial akan muncul ketika nilai dan norma mulai diabaikan. Lantas, mengapa seseorang melakukan penyimpangan sosial ? Tentu ada faktor penyebabnya.

Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation sebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
  • Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri, (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir).
  • Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi.
Sedangkan faktor penyebab menurut James W. Van der Zanden antara lain :
  • Longgar tidaknya nilai dan norma.
  • Sosialisasi yang tidak sempurna. Contohnya seorang pemimpin idealnya bertindak sebagai panutan dan menjadi tauladan, namun kenyataannya malah sebaliknya.
  • Sosialisasi sub kebudayaan yang menyimpang. Sub kebudayaan yang menyimpang adalah kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma budaya pada umumnya. Contohnya masyarakat yang hidup dan menetap di daerah kumuh kurang memperhatikan etika dan keindahan karena sibuk untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Adapun Casare Lombrosa menyatakan bahwa faktor penyebab penyimpangan sosial adalah sebagai berikut :
  • Biologis, berdasarkan ciri-ciri fisik tertentu seseorang yang dapat diidentifikasi sifatnya, misalnya melalui anatomi wajah (bentuk muka, mata, alis, bibir, dan sebagainya).
  • Psikologis, terjadinya penyimpangan bisa dikaitkan dengan kepribadian seseorang.
  • Sosiologis, biasanya terjadi karena sosialisasi yang kurang tepat.
Dari berbagai pendapat tersebut, kita bisa menjabarkannya lagi dengan mengelompokannya menjadi Faktor Internal (dari dalam) dan Eksternal (dari luar). 

a.) Faktor Internal
  • Intelegensi
Masing-masing orang di dunia ini tentu memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Ada yang memiliki IQ tinggi, rata-rata dan bawah. Perbedaan intelegensi ini akan berpengaruh terhadap kemampuannya dalam beradaptasi di masyarakat. 

Orang dengan tingkat intelegensi tinggi akan mudah menyesuaikan diri dengan norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, sebaliknya orang yang intelegensinya rendah akan susah menerima dan mentaati penerapan nilai-nilai di masyarakat. Hal ini karena tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas.

Contohnya : pelajar yang pandai cenderung mudah menerima pelajaran, mampu berkompetisi dengan teman lainnya dan berprestasi di sekolahnya. Sedangkan pelajar dengan IQ yang rendah lebih cenderung melanggar norma yang ada di sekolah seperti mencontek ketika ulangan, tidak mengerjakan PR, tidak taat terhadap tata tertib sekolah.

b.) Faktor Eksternal
  • Keluarga
Mengapa keadaan keluarga berpengaruh terhadap munculnya penyakit sosial ? Hal ini dikarenakan keluarga adalah guru pertama, guru yang mendidik anak untuk pertama kalinya. Keluarga memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak. Baik buruknya anak juga sangat dipengaruhi oleh didikan orang tuanya.

Jika kedua orang tua tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Maka anak tersebut tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga. Pada akhirnya anak menjadi nakal. Bandel dan bahkan yang paling ekstrim adalah durhaka kepada orang tua. 

Mirisnya, banyak anak-anak di Indonesia yang mengalami korban kasus broken home. Anak korban broken home ini tentu rentan terjerumus kenakalan remaja, misalnya penyalahgunaan narkoba.

Orang tua yang kurang selektif dalam berperilaku juga rentan ditiru oleh anaknya. Misalnya ayah Tejo suka merokok. Bukan tidak mungkin anaknya akan mengikuti jejak ayahnya untuk merokok. Hal kecil seperti inilah yang perlu diperhatikan oleh orang tua. 

Berbagai bentuk perilaku tersebut perlu di waspadai oleh setiap orang tua, bagaimana mendidik anak dengan baik sehingga memiliki mental yang tangguh, berakhlak mulia, berperilaku santun, dan tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif.
  • Masalah Ekonomi
Di Indonesia, masih banyak orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi ini, apabila dibiarkan terus menerus akan mengakibatkan kecenderungan sosial, dimana penyimpangan sosial akan dengan mudahnya dilakukan. 

Jika orang tua belum.tidak mampu memberikan kebutuhan materi karena kemiskinan, maka anak akan melampiaskan kekecewaannya di luar rumah. Pergaulan yang salah diluar rumah tentu akan memicu perilaku menyimpang.

Maka dari itu, pembentukan karakter yang baik berlandaskan norma dan nilai-nilai agama perlu dilakukan oleh orang tua kepada anaknya, sehingga anak tidak ikut terjerumus kepada penyimpangan, bahkan tetap semangat dan berusaha menjalani hari-harinya.

Contoh permasalahan ekonomi ini yaitu masyarakat yang hidup di sekitar tempat wisata, bagi anak yang tidak mendapatkan kebutuhan materi yang cukup dan kurangnya iman akan menjerumuskan anak kepada perilaku menyimpang seperti, judi, miras, prostitusi, dan menjadi preman.
  • Pergaulan
Jika teman pergaulan seseorang itu rata-rata baik maka orang tersebut akan berperilaku baik, sebaliknya jika teman pergaulannya tidak baik maka orang tersebut akan terjerumus.ikut-ikutan menjadi tidak baik pula. Hal ini akan menyebabkan seseorang terpengaruh ke hal-hal negatif yang sekiranya melanggar norma, aturan dan tatanan nilai dalam masyarakat.
  • Media Masa
Media masa akan menjadi pedang dua sisi, jika kita menggunakannya dengan baik maka kita memperoleh manfaat begitu pula sebaliknya.

Misalnya tayangan di televisi yang kurang mendidik sangat mudah mempengaruhi kepribadian anak dan remaja yang sedang dalam tahap mencari jati dirinya. Sinetron atau acara yang menayangkan sadisme, kriminalitas, materialisme, dan pornografi sangat berpengaruh terhadap jiwa perkembangan psikologis anak.
Masuknya Kebudayaan Asing di Era globalisasi

Saat ini arus globalisasi telah nampak di berbagai sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Budaya asing yang sekiranya kurang baik. Menyimpang dari tatanan sosial sangatlah mudah untuk masuk ke dalam roda kehidupan masyarakat. Akibatnya masyarakat akan terbawa arus dan mengikutinya. Misalnya saja anak muda  kekinian yang mengikuti trend budaya luar, glamour dan pamer tubuh.
  • Pelabelan atau Ingin dipuji
Ketika seseorang melakukan hal menyimpang, kerap kali banyak cibiran yang datang dari orang-orang di sekitarnya. Penyimpangan yang dilakukan berulang kali akan menjadikan orang-orang memberinya julukan/cap/label negatif. Awalnya pelaku hanya melakukan penyimpangan primer, namun karena  di cap oleh orang di sekitarnya dia akhirnya melakukan penyimpangan sekunder.

Contohnya :

Seorang anak pernah mencuri pulpen milik temannya dan ketahuan. Setelah kejadian itu, dia menjadi bahan pembicaraan teman-temannya di sekolah dan dicurigai semua orang. Karena julukan �pencuri� telah melekat pada anak tadi, maka akan menyebabkan tekanan batin. Akhirnya dia malah melakukan hal yang lebih ekstrim, mencuri barang yang nilainya lebih besar, misalnya handphone atau laptop temannya. Bahkan dia bisa melakukannya di luar area sekolah.

#5. Dampak Penyimpangan Sosial


Jika seseorang melakukan hal yang menyimpang. Tentu akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan dapat terjadi. Penyimpangan sosial dapat berdampak kepada diri sendiri (individu) maupun masyarakat di sekitarnya.

a.) Dampak bagi Diri Sendiri (Individu)
  • Menghancurkan masa depan diri pelaku yang menyimpang. Terlebih yang melakukan penyimpangan negatif.
  • Mencelakakan diri sendiri.
  • Menjauhkan diri dari akhlak mulia dan menjauhkan dirinya dari Tuhan.
  • Terkucil : Pada dasarnya segala bentuk penyimpangan akan ditolak oleh masyarakat. Pelaku penyimpangan biasanya dikucilkan dari segala urusan kemasyarakatan. Pengucilan ini dapat melalui bidang hukum yaitu penjara, bidang sosial yaitu tidak diakui keberadaannya, atau di bidang budaya yang keberadaannya ditolak bahkan diusir dari lingkungannya.
  • Terganggunya Perkembangan jiwa : Karena melakukan kesalahan lalu ditolak oleh masyarakat, secara otomatis pelaku penyimpangan akan tertekan, terutama psikologisnya. Mental dan jiwanya lama kelamaan bertambah suram dan terpuruk.
  • Rasa Bersalah : Sebagai seorang manusia, pelaku penyimpangan tentu akan merasa malu, bersalah dan menyesal telah melanggar nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
b.) Dampak bagi Masyarakat
  • Mengganggu keamanan dan ketertiban.
  • Merusak unsur-unsur budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
  • Mumudarnya nilai dan norma : Hal ini dikarenakan penyimpangan yang terjadi tidak mendapatkan sanksi yang tegas dan jelas sehingga timbul sikap apatis terhadap pelaksanaan menjunjung nilai dan norma yang berlaku. Pada akhirnya nilai dan norma tersebut tidak lagi dianggap penting oleh masyarakat.
  • Terganggunya Keseimbangan sosial : Perilaku menyimpang merupakan penyimpangan melalui struktur sosial. Karena masyarakat merupakan struktur sosial, maka dampak penyimpangan pasti akan berdampak kepada masyarakat dan mengganggu keseimbangan sosialnya.
Kesimpulan

Penyimpangan sosial  sadar tidak sadar pasti pernah kita lakukan. Penyimpangan sosial dapat terjadi dimanapun dan dilakukan oleh siapapun. Sejauh mana penyimpangan itu terjadi, besar atau kecil, dalam skala luas atau sempit pasti akan mengganggu keseimbangan hidup dalam masyarakat. Untuk itulah, kita perlu mencegahnya dengan pengendalian sosial.

^Referensi :
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Perilaku_menyimpang
  • Buku LKS PPKn SMP
  • http://www.softilmu.com/2014/07/penyimpangan-sosial-pengertian-ciri.html

Read More