Showing posts with label Pendidikan Agama Islam. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Agama Islam. Show all posts
Pengertian dan Perbedaan Qada & Qadar

Pengertian dan Perbedaan Qada & Qadar

Sebagai umat Islam yang baik, kita pasti sudah pernah mendengar kisah-kisah para nabi pada zamannya. Mereka adalah orang-orang terpilih yang sudah sepatutnya ditiru oleh umat manusia. 

Mereka juga memiliki keyakinan yang sangat tinggi terhadap kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta�ala.

Pengertian dan Perbedaan Qada & Qadar
Lantas, masih ingatkah sobat mengenai kisah Nabi Ibrahim yang diutus oleh Allah untuk menyembelih anaknya sendiri (Nabi Ismail) melalui perantara mimpi, lalu kemudian anaknya mempercayai hal tersebut sebagai perintah-Nya ?

Yaps ! Mereka (para nabi) merupakan sosok-sosok manusia yang sudah selayaknya kita tiru akhlaknya, karena benar-benar menjaga nilai-nilai Tauhid dengan kepercayaan/keyakinan yang amat tinggi.

Pengertian Qada dan Qadar

Ulama-ulama yang ada di dunia ini memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai qada dan qadar. Sebagian ulama ada yang mengartikan sama, dan sebagian ulama yang lainnya memberikan artian yang berbeda.

Pandangan yang membedakan antara Qada dan Qadar, memberikan definisi mengenai Qada yaitu �Segala sesuatu yang Allah Subhanahu Wa Ta�ala wujudkan (adakan/berlakukan) sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya.� Sedangkan Qadar adalah �Ilmu Allah Subhanahu Wa Ta�ala tentang apa yang akan terjadi kepada makhluk di masa yang akan datang.� Bahkan ada sebagian ulama yang justru menerapkan definisi tersebut (di atas) secara terbalik, dengan kata lain definisi Qada dan Qadar itu ditukar penerapannya.

Adapun pandangan yang menyamakan Qada dan Qadar mendefiniskan bahwa Qada dan Qadar adalah �Aturan baku yang diberlakukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta�ala terhadap alam semesta, peraturan/undang-undang yang bersifat umum, dan berbagai hukum yang mengikat hubungan sebab dan akibat.�

Pendapat di atas bisa didapat karena penjelasan-penjelasan yang terdapat di dalam Al-Quran. Salah satu contohnya yaitu terdapat di Surah Ar-Ra�d (13) ayat 8 yang berbunyi :
Artinya :
�Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahimm yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.�
Sampai saat ini, mungkin sobat sudah sedikit paham.

Nah, mari kita simpulkan bersama pengertiannya menurut bahasa dan istilah.
  • Pengertian Qada menurut Bahasa : menentukan atau memutuskan.
  • Pengertian Qada menurut Istilah : segala ketentuan Allah Subhanahu Wata�ala sejak zaman azali.
  • Pengertian Qadar menurut Bahasa : memberi kadar, aturan, atau ketentuan.
  • Pengertian Qadar menurut Istilah : ketetapan Allah Subhanahu Wata�ala terhadap seluruh makhluk-Nya tentang segala sesuatu.
Pendapat ini bisa diperkuat dengan adanya firman Allah Subhanahu Wata�ala dalam Al-Quran Surah Al-Furqan (25) ayat 2 yang berbunyi :

Artinya :
�Yang kepunyaan-Nya lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan-Nya, dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.�
Seperti yang kita ketahui, Qada dan Qadar adalah rukum iman yang ke 6 dan menjadi wajib hukummnya untuk kita yakini kebenarannya. Hal ini juga sudah dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta�ala di dalam Al-Quran Surah Al-Hajj (22) ayat 70 yang berbunyi :
�Apakah kamu tiak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi ?; bahwasannya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.�
Firman lainnya :
�Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.� (Al-Quran Surah Al-Hadid (57) ayat 22).
Iman kepada Qada dan Qadar sama artinya dengan percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah Subhanahu Wa Ta�ala telah menentukan segala sesuatu bagi makhluk-Nya.

Ada juga Yasin yang berpendapat bahwa ian kepada Qada dan Qadar adalah mengimani adanya ilmu Allah Subhanahu Wa Ta�ala yang qadim dan mengimani adanya kehenak Allah Subhanahu Wa Ta�ala yang berlaku serta kekuasaan-Nya yang menyeluruh.

Dalam mengimani Qada dan Qadar, kita sebaiknya memahami empat prinsip di dalamnya yaitu :
  • Iman kepada ilmu Allah Subhanahu Wa Ta�ala yang Qadim (tidak berpermulaan), dan Dia mengetahui perbuatan manusia sebelum mereka melakukannya;
  • Iman bahwa semua Qadar Allah Subhanahu Wa Ta�ala telah tertulis di dalam Lauh Mahfuzh;
  • Iman kepada adanya kehendak Allah Subhanahu Wata�ala yang berlaku dan kekuasaan-Nya bersifat menyeluruh;
  • Iman bahwa Allah Subhanahu Wa Ta�ala adalah Dzat yang mewujudkan makhluk. Allah Subhanahu Wata�ala adalah Sang Pencipta dan yang lain adalah makhluk-Nya. 
Mungkin sobat masih awam dengan istilah Qada dan Qadar di dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tanpa kita ketahui Qada dan Qadar sudah sering kita ucapkan. Orang-orang biasa menyebut Qada dan Qadar dengan istilah takdir.

Tuh, udah biasa bilang takdir kan ?

Nah sebenarnya bagi manusia dan makhluk lain, ada yang memiliki pandangan bahwa takdir itu terdiri dari takdir baik dan takdir buruk. Namun, dalam pandangan Allah Subhanahu Wa Ta�ala semua takdir itu baik. Hal ini dikarenakan keburukan tidak dinisbatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta�ala, Ilmu Allah Subhanahu Wa Ta�ala, kehendak-Nya, catatan-Nya, dan penciptaan-Nya semuanya itu merupakan kebijaksanaan, keadilan, kasih sayang, dan kebaikan. 

Yang perlu sobat ketahui, keburukan bukanlah sifat Allah Subhanahu Wa Ta�ala dan bukan pula pekerjaan-Nya, dan Dia adalah yang paling sempurna di alam semesta ini.

Hal ini didasarkan dengan firman Allah dalam Al-Quran Surah Yunus (10) ayat 44 yang berbunyi :
�Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada dirinya sendiri.�
Kewajiban Beriman kepada Qada dan Qadar

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wassallam di datangi oleh seorang laki-laki yang berpakaian serba putih dan rambutnya sangat hitam. Lelaki itu kemudian bertanya mengenai Islam, Iman dan Ihsan. Mengenai keimanan, Rasulullah menjawab yang artinya : �Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman pula kepada Qada dan Qadar (takdir) yang baik maupun yang buruk.� (Hadist Riwayat Muslim).

Lelaki berambut hitam itu sebenarnya adalah Malaikat Jibril yang sengaja datang untuk memberi pelajaran agama kepada umat Rasulullah. Dan seperti yang kita tahu, jawaban dari Rasulullah itu merupakan rukun iman seorang muslim yang mana salah satunya merupakan iman kepada Qada dan Qadar Allah Subhanahu Wa Ta�ala.

Maka dari itu, mempercayai dan meyakini adanya Qada dan Qadar adalah suatu kewajiban. Kita benar-benar harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, keluarga kita, lingkungan pergaulan kita, baik yang menyenangkan maupun yang tidak adalah atas kehendak atau takdir Allah Subhanahu Wa Ta�ala.

Kita juga harus rela dan ikhlas menerima segala ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta�ala atas diri kita. Hal ini telah diterangkan dalam hadist qudsi, bahwa Allah Subhanahu Wata�ala berfirman yang artinya :
�Siapa yang tidak rida dengan Qada-Ku dan Qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencana-Ku yang aku timpakan atasnya, maka hendaklah mencari Tuhan selain Aku.� (Hadist Riwayat At-Tabrani)
Takdir Allah merupakan iradah/kehendak-Nya. Maka dari itu, takdir tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.

Ketika takdir sesuai dengan keinginan kita, maka hendaklah kita bersyukur karena itu merupakan nikmat yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu Wata�ala. 

Namun, ketika takdir tidak sesuai keinginan (mungkin berupa musibah atau hal yang kurang menyenangkan), maka hendaklah kita bersabar. Kita pasrahkan saja kepada-Nya dengan penuh keikhlasan.

Kita juga harus meyakini bahwa dibalik musibah tersebut pasti ada hikmah yang terkadang kita belum mengetahuinya. Allah Subhanahu Wa Ta�ala Maha Mengetahui atas apa yang diperbuat-Nya.

Dan sobat juga perlu tahu bahwa Allah adalah sebaik-baiknya perencana. Bukan tidak mungkin, musibah tersebut adalah sebuah peringatan kepada kita agar lebih mengingat-Nya. 

Kita perlu berbaik sangka atas segala sesuatu yang menimpa kita, baik itu berupa hal baik maupun buruk, karena semua itu sejatinya adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita.

Nah, sampai di sini pasti sobat sudah benar-benar paham mengenai pengertian dan perbedaan Qada & Qadar. Keduanya itu merupakan takdir Allah yang harus kita yakini dengan sepenuh hati. Oh iya, kamu juga harus baca artikel perbedaan takdir mubram dan muallaq agar dapat menambah wawasan terhadap ilmu agama Islam.
Read More
Pengertian Kitab dan Suhuf serta Nabi yang Menerimanya

Pengertian Kitab dan Suhuf serta Nabi yang Menerimanya

Pengertian/Perbedaan antara Kitab dan Suhuf serta Para Nabi yang Menerimanya - Sebagai umat Islam, sudah pasti kita harus mempercayai adanya kitab yang diturnkan pada para Nabi untuk menjadikan petunjuk untuk para umatnya. Mempercayai kitab-kitab Allah dengan sepenuh hati merupakan kewajiban dan harus diterapkan pada dirinya sendiri. Selain mempercayai adanya kitab-kitab yang diturunkan Allah Subhanahu Wata�ala kepada para manusia, ada juga suhuf yang harus kita percayai pula. 

Pengertian Kitab dan Suhuf serta Nabi yang Menerimanya

Jika tidak ada suhuf, maka kitab suci umat Islam yang kini sudah ada di dunia tidak menjadi satu kesatuan yang utuh. Pengertian/perbedaan kitab dan suhuf sebenarnya sudah banyak dipelajari ketika kita mengaji ataupun saat bersekolah. Namun, mari kita ingat kembali, apa itu Pengertian kitab dan suhuf agar kita tidak lupa dan juga mengetahui perbedaan-perbedaan yang ada pada kedua benda suci tersebut.

Allah Subhanahu Wata�ala telah menurunkan wahyu-Nya kepada para Nabi dan Rasul sebagai perantara agar para umatnya menjadi manusia terarah yang bisa beriman kepada Allah. Untuk itu kita sebagai umat haruslah mengimaninya dan mengetahui pengertian/perbedaan kitab dan suhuf yang sesungguhnya. Nah, berikut Pengertian kitab dan suhuf yang harus kita ketahui

Pengertian Kitab & Suhuf


1. Kitab

Kitab adalah wahyu Allah Subhanahu Wata�ala yang telah diturunkan kepada para Nabi dan Rasul yang berisi lembaran-lembaran wahyu Allah yang sudah dibukukan. Kita umat Islam kitab sucinya adalah Al-Qur�an, sudah pasti tahu mengenai Al-Qur�an tersebut. Al-Qur�an berisi firman-firman atau wahyu-wahyu Allah yang memberikan petunjuk kepada umatnya untuk terus beriman kepada Allah dan menjadi manusia yang baik di dunia. 

Al-Qur�an juga berisi mengenai hal-hal kejadian dari zaman dahulu sampai masa depan nanti sehingga Al-Qur�an dijuluki kitab akhir zaman karena sudah mencangkup berbagai hal dari dulu hingga masa depan nanti. Kita sebagai umat Islam harus rajin membaca kitab Al-Qur�an dan menerapkan apa saja hal-hal yang baik di dalamnya untuk hidup kita di dunia. Agar di akhirat nanti, kita bisa selamat dari siksaan api neraka.

Selain itu, kita juga harus mengetahui kitab-kitab Allah yang lain. Berikut adalah kitab-kitab Allah yang lain, beserta Nabi yang menerimanya :
  • Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa Alaihissalam
  • Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud Alaihissalam
  • Kitab Injil ditunkan kepada Nabi Isa Alaihissalam
  • Kitab Al-Qur�an diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu �Alaihi Wasallam

2. Suhuf

Jika Al-Qur�an adalah lembaran-lembaran wahyu Allah yang sudah dibukukan, Suhuf adalah lembaran-lembaran wahyu Allah yang belum dibukukan. Jadi memang benar-benar masih berbentuk lembaran sebelum itu semua terkumpul dan membentuk satu kitab secara urut seperti sekarang ini. 

Salah satu bukti (dalil naqli) yang membenarkan bahwa Suhuf itu memang benar-benar ada adalah Firman Allah Subhanahu Wata�ala yaitu :
"Sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yang) kitab-kitab Ibrahim dan Musa." (QS Al-A'la/87:18-19)
Nabi-Nabi yang menerima Suhuf adalah :
  • Nabi Syis Alaihissalam  = 50 suhuf
  • Nabi Idris Alaihissalam  = 30 suhuf
  • Nabi Ibrahim Alaihissalam = 10 suhuf
  • Nabi Musa Alaihissalam = 10 suhuf

Perbedaan Kitab & Suhuf


Setelah soba tmengetahui pengertian dari kitab dan suhuf, pastinya sobat sudah ada gambaran mengenai kedua benda suci ini. Adapun beberapa perbedaan antara kitab dan suhuf secara umum adalah sebagai berikut :




  • Wujud : Untuk kitab sendiri itu sudah dibukukan jadi lebih terstruktur dan rapi, sedangkan suhuf masih berbentuk lembaran-lembaran.
  • Kelengkapan : Isi kitab lebih jauh lengkap dan detail dibandingkan dengan isi suhuf.
  • Masa berlaku : Kitab memiliki masa berlaku yang lebih lama daripada suhuf untuk diterima umatnya.
  • Kewajiban menyampaikan : Nabi atau Rasul yang menerima wahyu Allah dengan bentuk kitab diwajibkan untuk menyampaikan isi dari wahyu tersebut kepada pengikut/umatnya. Hal ini berbanding terbalik dengan Nabi atau Rasul yang menerima wahyu secara periodik maka hal ini menjadi tidak wajib.
Nah demikianlah artikel mengenai pengertian dan perbedaan antara kitab dan suhuf, semoga sobat bisa lebih memahami, mempelajari dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Meski kita memiliki kepercayaan, agama dan kitab yang berbeda, kita diwajibkan untuk saling menghormati dan mempercayainya. 

Dua benda suci ini juga menjadi pedoman hidup tentang aturan hidup, dimana ada pembeda antara yang hak dan yang bathil.

Semoga kita bisa meningkatkan ibadah dan amalan kita di dunia ini...
Read More
Pengertian Khutbah, Tabligh dan Dakwah beserta Ketentuannya [Bahas Tuntas]

Pengertian Khutbah, Tabligh dan Dakwah beserta Ketentuannya [Bahas Tuntas]

Sobat pasti sudah sering mendengar istilah Khotbah, Tabligh & Dakwah, tapi apa sih pengertian dan perbedaan di antara ketiganya ? Hmmm.... pasti masih bingung. 

Pengertian Khutbah, Tabligh dan Dakwah beserta Ketentuannya [Bahas Tuntas]

Sehubungan dengan itu, kali ini kita akan membahas secara tuntas mengenai khutbah, tabligh dan dakwah. Pembahasan kita kali ini meliputi pengertian, syarat, rukun, etika, sunah, hadist, dan pembahasan lainnya yang tentu berhubungan dengan ketiga istilah tersebut.
Secara singkat perbedaan ketiga istilah tersebut yaitu :
  • Khutbah : Pidato atau ceramah.
  • Tabligh : Menyampaikan.
  • Dakwah : Mengajak.
Nah, jika sobat masih ingin mempelajari lebih dalam mengenai ketiga istilah tersebut, berikut adalah pembahasan secara mendetailnya......

A. PENGERTIAN KHUTBAH/KHOTBAH, TABLIGH DAN DAKWAH


#1. Pengertian Khutbah

Khutbah secara bahasa berarti ceramah atau pidato. Selain itu juga, khutbah dapat bermakna memberi peringatan, pembelajaran atau nasehat dalam kegiatan ibadah seperti : salat(salat Jumat, Idul Adha, Istisqa�, Kusuf) wukuf dan nikah.

Sedangkan pengertian khutbah secara istilah yaitu kegiatan ceramah yang disampaikan kepada sejumlah orang Islam dengan syarat dan rukun tertentun yang erat kaitannya dengan keabsahan dan/atau kesunahan ibadah (misalnya khutbah Jumat untuk solat Jumat, khutbah nikah untuk kesunahan akad nikah).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka kita dapat menyimpulkan beberapa macam khutbah, yaitu : khutbah Jumat, khutbah Idul Fitri, khutbah Idul Adha, khutbah Istisqa�, maupun khutbah dalam rangkaian salat Kusuf dan Khusuf.

#2. Pengertian Tabligh

Tablig secara etimologi/bahasa berasal dari kata ballaga-yuballigu-tabligan yang artinya menyampaikan atau memberitahukan dengan lisan.

Adapun menurut terminologi/istilah, tablig berarti menyampaikan ajaran Islam baik dari Al-Quran maupun Hadist yang ditujukan kepada umat manusia. 

Tablig juga dapat diartikan sebagai kegiatan menyampaikan �pesan� Allah Subhanahu Wata�ala secara lisan kepada satu orang Islam atau lebih untuk diketahui dan diamalkan isinya. 

Misalnya, Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam memerintahkan kepada sahabat di majlisnya untuk menyampaikan suatu ayat kepada sahabat yang tidak hadir.

Seseorang yang melakukan tabligh disebut dengan muballig. Muballig ini biasanya menyampaikan tablignya dengan gaya dan retorika yang menarik. Sobat pasti sering mendengar istilah tabligh akbar, istilah tersebut dapat diartikan sebagai kegiatan menyampaikan �pesan� Allah Subhanahu Wata�ala dalam jumlah pendengar yang banyak.

#3. Pengertian Dakwah

Dakwah berasal dari Bahasa Arab yaitu da�a � yad�u � da�watan yang berarti memanggil, menyeru atau mengajak. Menurut istilah, dakwah adalah kegiatan untuk mengajak orang lain ke jalan Allah Subhanahu Wata�ala secara lisan atau perbuatan untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan nyata supaya mendapat kebahagiaan yang hakiki baik di dunia dan akhirat.

Seseorang yang melaksanakan dakwah disebut da�i. Adapun macam-macam dakwah berdasarkan bentuk penyampaiannya yaitu :
  • Dakwah dengan lisan (kultum, kajian, khutbah).
  • Dakwah dengan tulisan (majelis buku, membuat artikel lalu diletakkan di majalah dinding atau diunggah ke internet).
  • Dakwah dengan perilaku (memberi contoh kepada orang lain agar berperilaku baik sesuai syariat Islam).
Selain itu, kegiatan dakwah dapat berupa aksi sosial yang nyata. Misalnya santunan kepada anak yatim, sumbangan untuk membangun fasilitas umum, dan sebagainya.

B. PENTINGNYA KHUTBAH, TABLIGH, DAN DAKWAH


Setelah kita memahami berbagai ulasan di atas, kita juga perlu memahami seberapa pentingkah khutbah, tabligh dan dakwah dalam kehidupan. Yuk simak pembahasannya sekali lagi...

#1. Pentingnya Khutbah

Ketika khutbah menjadi salah satu aktivitas ibadah, maka tidak mungkin khutbah ditinggalkan. Jikapun demikian, maka akan membatalkan (tidak sah) ibadah tersebut. Contohnya, apabila salat Jumat dan wukuf tidak ada khutbahnya, maka ibadahnya menjadi tidak sah.

Jadi peranan khutbah di sini menjadi sangat penting, apalagi khutbah menjadi saran untuk membimbing manusia menuju ke-rida-an Allah Subahanahu Wata�ala. Khutbah juga memiliki kedudukan Agung dalam Islam sehingga sepatutnya seorang khatib melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

#2. Pentingnya Tabligh

Telah kita ketahui bersama, tablig merupakan salah satu sifat wajib bagi rasul. Itulah sebabnya mengapa Allah Subhanahu Wata�ala sering kali menyebut dalam kitab-Nya bahwa tugas seorang rasul tidak lain hanyalah menyampaikan. Setelah Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam wafat, kebiasaan ini dilanjutkan oleh para sahabatnya, pengikut sahabat (tabi�in) dan pengikut pengikutnya sahabat (tabi�ut tabi�in).

Setelah mereka semua tiada, kita sebagai umat muslim memiliki tanggung jawab untuk meneruskan kegiatan tabligh tersebut.

Tidak mesti menjadi seorang ulama dahulu, siapapun yang melihat kemungkaran dimatanya, dan ia mampu menghentikannya maka ia wajib menghentikannya. Bagi yang mengerti permasalahan agama, ia harus menyampaikannya kepada yang lain siapa pun mereka, walaupun itu hanya satu ayat.

Nabi pernah bersabda yang berbunyi :

�Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.� (H.R. Bukhari)

#3. Pentingnya Dakwah

Dakwah merupakan kewajiban setiap umat Islam. Di antara pentingnya dakwah yang disebutkan oleh Allah Subhanahu Wata�ala dalam Al Quran antara lain :

Artinya : �Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.� (Q.S. Ali Imran/3 :104)

Setiap dakwah hendaknya bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat, serta mendapat rida dari Allah Subhanahu Wata�ala. Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan. 

Ia memulai dakwahnya kepada istri, keluarga dan teman-temannya hingga raja yang berkuasa pada saat itu (seperti Kaisar Heraklius dari Byzantium, Raja Mukaukis dari Mesir, Raja Kisra dari Persia/Iran, dan Raja Najaysi dari Habasyah/Ethiopia).

C. KETENTUAN KHUTBAH/KHOTBAH, TABLIGH DAN DAKWAH


#1. Ketentuan Khutbah
a.) Syarat Seorang Khatib
  • Islam.
  • Ballig.
  • Berakal sehat.
  • Mengetahui ilmu agama.
b.) Syarat Dua Khutbah
  • Khutbah dilaksanakan sesudah waktu masuk dzuhur.
  • Khatib duduk di antara dua khutbah.
  • Khutbah diucapkan dengan suara yang keras dan jelas.
  • Tertib.
c.) Syarat-syarat Khotbah Jumat
  • Khutbah dilaksanakan sesudah tergelincirnya matahari (masuk waktu dzuhur).
  • Khatib dalam keadan suci dari hadas dan najis.
  • Khatib harus laki-laki.
  • Khatib duduk di antara dua khutbah.
  • Khutbah diucapkan dengan suara yang keras dan jelas.
  • Khutbah dilakukan dalam keadaan berdiri (jika mampu).
  • Hendaknya tertib dalam melakukan rukun khutbah.
d.) Rukun Khutbah
  • Membaca hamdallah.
  • Membaca syahadat.
  • Membaca shalawat atas Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam.
  • Berwasiat taqwa.
  • Membaca ayat Al Qur�an pada salah satu khotbah.
  • Berdoa pada khutbah kedua.
e.) Sunah-sunah Khutbah Jumat
  • Khatib memberikan salam sebelum azan dikumandangkan.
  • Khotbah diucapkan dengan kalimat yang jelas, fasih, mudah dipahami, dan disampaikan dengan penuh semangat.
  • Khatib menyampaikan khutbah hendaknya diperpendek dan jangan terlalu panjang, sebaliknya solat Jumatnya yang diperpanjang.
  • Khatib menghadap ke jamaah ketika berkhutbah.
  • Menertibkan rukun-rukun khutbah.
  • Khotbah dilakukan di atas mimbar atau tempat yang tinggi.
Tambahan :
  • Pada prinsipnya, ketentuan dan cara khutbah, baik itu untuk salat Jumat, Idul Fitri, Idul Adha maupun salat khusuf itu sama. Letak perbedaannya yaitu pada waktu pelaksanaannya, yaitu dilaksanakan setelah salat dan diawali dengan takbir.
  • Khutbah wukuf adalah khutbah yang dilakukan pada saat wukuf di Arafah dan merupakan salah satu rukun wukuf setelah melaksanakan salat dzuhur dan ahsar (di qasar). Khutbah wukuf hampir sama dengan khutbah Jumat, bedanya pada waktu pelaksanaannya yaitu ketika wukuf di Arafah.

#2. Ketentuan Tabligh
Syarat Muballig
  • Islam.
  • Ballig.
  • Berakal sehat.
  • Mendalami ajaran Agama Islam.
Etika dalam Menyampaikan Tabligh
  • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
  • Bersikap lemah lembut, tidak kasar dan tidak merusak.
  • Mengutamakan musyawarah dan berdiskusi untuk memperoleh kesepakatan bersama.
  • Materi dakwah yang disampaikan harus memiliki dasar hukum yang kuat, sumbernya juga harus jelas.
  • Menyampaikannya dengan ikhlas dan sabar, sesuai dengan kondisi, psikologis dan sosiologi si penerima.
  • Tidak menghasut orang lain untuk merusak, bermusuhan, berselisih, dan/atau mencari kesalahan orang lain.
#3. Ketentuan Dakwah
a.) Syarat Seorang Da�i
  • Islam.
  • Ballig.
  • Berakal sehat.
  • Mendalami ajaran Agama Islam.
b.) Etika dalam Berdakwah
  • Dakwah dilaksanakan dengan hikmah (diucapkan dengan jelas, tegas dan sikap yang bijaksana).
  • Dakwah dilaksanakan dengan mauzatul hasanah atau nasihat yang baik, yaitu cara persuasif (tanpa kekerasan) dan edukatif (pengajaran).
  • Dakwah dilaksanakan dengan memberi contoh yang baik.
  • Dakwah dilaksanakan dengan mujadalah, yaitu diskusi atau bertukar pikiran yang berjalan dengan dinamis dan santun serta menghargai pendapat orang lain.
c.) Objek Dakwah (Mad�u)

Objek dakwah adalah orang yang didakwahi, dengan kata lain orang yang diajak kepada agama Allah dan untuk kebaikan. Objek dakwah mencakup seluruh manusia, tak terkecuali si pendakwah itu sendiri.

d.) Materi Dakwah (Al Maudhu�)

Materi dakwah adalah segala sesuatu yang disampaikan kepada subyek dakwah kepada objek dakwah yang meliputi seluruh ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran maupun Hadist.

Secara umum, materi dakwah mencakup 4 hal yaitu : akidah (keyakinan), syariah (hukum), akhlak (perilaku), dan muamalah (hubungan sosial).

e.) Metode Dakwah (asalibud da�wah)

Metode dakwah yaitu cara-cara yang digunakan oleh seorang da�i dalam berdakwah agar maksud dari dakwah tersebut tercapai. Metode dakwah tersebut telah disebutkan dalam Al Quran Surah An-Nahl ayat 125 yang artinya :

 �Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk� (Q.S. An-Nahl/16 : 125)

Metode dakwah tersebut jika kita jabarkan menjadi :

a.) Berdakwah dengan Hikmah
  • Al Quran dan sunah.
  • Ucapan ringkas yang mengandung banyak makna.
  • Manfaat serta rahasia setiap hari.
b.) Berdakwah dengan Mau�idah Hasanah
  • Memberikan motivasi untuk berbuat baik atau memberi peringatan jika melakukan maksiat.
  • Ucapan yang lemah lembut.
  • Pengajaran yang mengandung pesan positif.
Jadi, mau�idah hasanah dapat diartikan sebagai nasihat yang diucapkan dengan perkataan lemah lembut sehingga dapat masuk ke dalam hati orang yang didakwahi dan dapat diterima dengan penuh kesadaran.
c.) Berdakwah dengan Mujadalah Ahsan
  • Mujadalah ahsan adalah melakukan diskusi, bertukar pikiran ataupun membantah perkataan yang lembut dan tidak menggunakan ucapan yang kasar sehingga dapat diterima oleh lawan dengan lapang dada.

D. MENERAPKAN PERILAKU MULIA SEHUBUNGAN DENGAN KHUTBAH, TABLIGH DAN DAKWAH


Sebagai umat Islam yang baik, kita tentu harus merealisasikan nilai-nilai khutbah, tabligh dan dakwah di mana saja kita berada. Adapun cara-cara yang dapat dilakukan yaitu :

#1. Ketika solat Jumat, hendaknya mengamati dan menyimak khutbah yang disampaikan khatib. Dengan memperhatikannya secara utuh, diharapkan suatu saat nanti bisa tampil seabagi khatib pada waktu salat Jumat.

#2. Ketika kita melihat keadaan sekitar yang termasuk maksiat (seperti mencuri, tawuran, mencontek, dan sebagainya), kita harus mencegahnya dengan memberikan alasan yang logis, baik atas dasar agama maupun sosial. Cara mencegahnya dapat kita lakukan dengan perbuatan, jika tidak mampu dengan lisan, dan jika tidak mampu juga maka dengan hati.

#3. Jika melihat sesuatu yang baik, contohlah. Dimulai dari diri sendiri, dari tindakan yang kecil dimulai dari sekarang.
#4. Lebih aktif mengikuti kegiatan keagamaan.
#5. Memprakarsai kegiatan di lingkungan sekolah, remaja masjid, karang taruna, dakwah kampus, dan sebagainya.

Baca materi agama lainnya : Hormat dan Patuh kepada Orang Tua/Guru

Referensi^
  • Buku Paket SMA/SMK Pendidikan Agama Islam kelas XI
  • Buku LKS PAI dan Budi Pekerti SMK Kelas X

Read More
Ayo Hormati dan Sayangi Orang Tua dan Gurumu ! Inilah Penjelasannya Menurut Islam

Ayo Hormati dan Sayangi Orang Tua dan Gurumu ! Inilah Penjelasannya Menurut Islam

Hormat, Patuh dan Sayang kepada Kedua Orang Tua dan Guru dalam Perspektif Islam � Seseorang yang patut kita banggakan dan kita sayangi adalah kedua orang tua kita. Mereka berdua seharusnya menjadi orang pertama yang harus kita hormati di dunia ini.

Hormat, Patuh dan Sayang kepada Kedua Orang Tua dan Guru dalam Perspektif Islam
Hormat, Patuh dan Sayang kepada Kedua Orang Tua dan Guru

Mereka senantiasa memberikan kasih sayang yang berlimpah kepada kita. Mereka mendidik dan membesarkan kita dengan susah payah, dengan tetes keringat yang begitu mereka perjuangkan.

Kita sebagai anak seringkali mengabaikan hal-hal tersebut, dan bahkan kita membuat mereka berdua sedih dan marah. 

Sudah benarkah sikap kita yang seperti ini ?

Ingat ! Mereka adalah sosok pahlawan yang nyata bagi hidup kita. Kita dilahirkan, kita dididik, kita dibesarkan dengan perjuangan yang begitu besar. Mereka rela mengorbankan kehidupan pribadinya demi kepentingan anak-anaknya.
Rasa lapar yang mereka rasakan demi anaknya, mendahulukan kepentingan anak di atas kepentingan pribadi dan rela berkorban apa saja demi kebaikan anaknya.

Oleh karena itu, Allah sangat menganjurkan hamba-Nya untuk berbakti kepada kedua orang tua. 

Sehubungan dengan itu, kesempatan kita kali ini akan membahas perilaku hormat dan patuh kepada orang tua dan guru. Yuk simak pembahasannya.....

A. Pentingnya Hormat dan Patuh kepada Kedua Orang Tua


#1. Makna Orang Tua bagi Anak

Menghormati orang tua adalah kebaikan yang sangat besar amalannya. Bagaimanapun juga, mereka berdua ibarat malaikat dalam hidup kita.

Jasa-jasa yang telah orang tua berikan sudah selayaknya kita hargai dan kita balas dengan kebaikan yang sama. Sebagai seorang anak, kita memiliki kewajiban untuk menyayangi, menghargai, menghormati dan merawat mereka berdua.
Perlu diketahui juga, balasan kebaikan yang telah kita perbuat tidak akan sebanding dengan jasa-jasa mereka berdua. Kebaikan kita ibarat buih-buih dalam lautan yang luas. Tidak akan sebanding dengan kebaikan mereka.

#2. Kewajiban Berbakti kepada Kedua Orang Tua

Setelah kita mengetahui betapa besarnya pengorbanan mereka berdua, kita benar-benar harus mengintrospeksi diri dan lebih berbuat baik kepada orang tua kita. Ingat ! Kebaikan kita terhadap orang tua tidak ada apa-apanya dibanding kebaikan yang telah orang tua kita berikan !

Sebagai anak, kita memiliki hak dan kewajiban dalam hidup. Salah satunya adalah hak memperoleh kasih sayang dari orang tua dan kewajiban berbakti kepada orang tua.

Dalam berbakti kepada orang tua, kita mengenal istilah �Birrul Walidaini� yang artinya yaitu berbuat baik dan bakti kepada orang tua melalui pemenuhan hak-hak kedua orang tua dan menaati segala perintahnya selama tidak melanggar syariat. 

Hal ini dipertegas lagi oleh Imam Adz-Dzahabi yang menjelaskan bahwa birrul walidain hanya dapat direalisasikan dengan memenuhi 3 bentuk kewajiban, yaitu :
  • Pertama : Menaati segala perintah orang tua, kecuali melanggar syariat.
  • Kedua : Menjaga amanah yang dititipkan orang tua/diberikan orang tua.
  • Ketiga : Membantu dan menolong orang tua bila mereka membutuhkan.
Adapun lawan kata dari birrul walidain yaitu �Aqqul Walidaini� yang berarti berbuat durhaka kepada orang tua dengan melakukan kejahatan atau menyakiti mereka, baik melalui perkataan/perbuatan, maupun meninggalkan kebaikan kepada kedua orang tua.

Sobat Ingin Sukses dalam Hidup ?

Jika iya, maka janganlah sekali-kali berbuat durhaka kepada orang tua. Banyak orang sukses di luar sana yang memiliki hubungan baik dengan kedua orang tua, terlebih kepada ibu. 

Hal ini dikarenakan rida Allah terletak pada rida kedua orang tua, dan doa ibu itu sungguh tanpa hijab di hadapan Allah mudah menembus langit. Sehingga doa ibu yang ia panjatkan untuk anaknya boleh jadi sangat mudah untuk dikabulkan. Seorang ibu yang selalu mendoakan anaknya di tiap nasapnya ketika bermunajat kepada Allah.

Berbakti merupakan lawan dari durhaka. Durhaka kepada orang tua adalah dosa besar yang sangat dibenci oleh Allah Subhanahu Wata�ala. Selain itu, Allah juga akan menyegerakan azab kepada mereka ketika di dunia.

Hal ini akan mengingatkan kita betapa istimewanya kedudukan orang tua dalam ajaran Islam dan juga sebagai pengingat betapa besarnya jasa kedua orang tua terhadap anaknya.

Kebaikan dan jasa-jasa orang tua tidak bisa kita bandingi dengan apapun juga. Bahkan, perkataan �AH� saja termasuk suatu dosa. Apalagi jika membentak, memukul, atau hal lainnya yang lebih kejam. Penjelasan ini juga sudah ditegaskan dalam Al Quran Surah Al-Isra� : 23-24.
Adapun Hikmah yang dapat diambil dari berbakti kepada kedua orang tua dan guru antara lain yaitu :
  • Berbakti kepada kedua orang tua adalah amalan yang paling utama dan besar pahalanya.
  • Allah meridhai segala perbuatan yang kita lakukan jika orang tua kita telah meridhai.
  • Seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tua akan diperpanjang umur dan diluaskan rezekinya.
  • Berbakti kepada kedua orang tua insyaallah dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami.
  • Kita dimasukkan ke dalam surga oleh Allah Subhanahu Wata�ala jika kita berbakti kepada kedua orang tua.
#3. Manfaat Berbakti kepada Orang Tua

Ketika kita berbakti kepada orang tua kita, tanpa kita sadari kita mendapat manfaatnya. Adapun keutamaan berbakti kepada orang tua antara lain :
  • Penghapus dosa besar
Ibnu Umar meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam, dan berkata :

�Saya telah melakukan dosa besar. Apakah mungkin dosa itu diampuni?� Rasulullah bertanya, �Apakah kedua ibu bapakmu masih hidup ?� Lelaki itu dengan sedih menjawab, �Keduanya telah meninggal dunia.� Rasulullah bertanya lagi, �Apakah kau punya khallah (saudara ibu) ?�, �Ya, punya.�, Jawab lelaki itu. Rasulullah pun kembali bersabda, �Baktikanlah dirimu kepadanya�. (H.R. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim)
Dipanjangkan usia dan dilimpahkan rezeki

Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda, �Siapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dilimpahkan rezekinya, hendaklah ia berbakti kepada ibu bapaknya, dan memilihara silaturahim�. (H.R. Ahmad)
  • Akan mendapat bakti yang sama dari anak keturunannya
Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda, �Janganlah kalian mengganggu wanita milik orang lain, niscaya wanita milikmu tidak akan diganggu orang, dan berbaktilah kepada bapak ibu kalian, agar anak-anakmu kelak berbakti kepadamu. Barang siapa yang minta maaf oleh saudaranya, hendaklah dimaafkannya, baik ia salah atau benar. Jika tidak ada yang mengamalkannya, maka ia tidak akan mendatangi al-haud (sebuah danau) di surga�. (H.R. Al Hakim)
  • Dimasukkan ke dalam surga
Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda, �Pintu tengah terbuka untuk orang-orang yang birrul walidain. Barang siapa yang berbakti kepada ibu bapaknya, akan terbukalah pintu itu, dan siapa yang durhaka kepada keduanya, tutuplah pintu itu baginya�. (Dikeluarkan oleh Ibnu Sahih dalam �AtTargib� dan oleh ad-Dailami dalam Musnadil Firdaus)

B. Hormat dan Patuh Kepada Guru


#1. Pengertian dan Makna Seorang Guru dalam Perspektif Islam

Guru adalah orang  yang juga berjasa dalam hidup kita. Mereka memberikan pengetahuan sekaligus pendidikan akhlak terhadap murid-muridnya. Mereka rela mengorbankan hari-harinya demi mengajarkan hal-hal baru kepada kita. Mereka mengajari kita banyak hal, mulai dari menulis, membaca, berhitung, berpikir, dan lain sebagainya.

Guru merupakan motivator terbaik bagi anak-anak di seluruh dunia. Mereka menjadi penggerak utama yang mampu mengeluarkan jiwa kepemimpinan seorang anak. Guru mempunyai pengaruh yang sangat besar guna melahirkan pemimpin-pemimpin baru dengan latar belakang profesi yang berbeda-beda di masa depan.

Adapun Ayat yang berkaitan dengan seorang guru yaitu terkandung dalam Al Quran Surah Fatir/35:28, yang artinya :

Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Guru  juga merupakan pewaris para nabi. Mengapa ? Karena melalui guru, wahyu atau ilmu para nabi diteruskan kepada umat manusia. Imam Al-Ghazali mengkhususkan guru dengan sifat-sifat kesucian, kehormatan, dan penempatan guru langsung setelah para nabi.

Seorang guru tidak hanya memberikan pengetahuan umum saja,  melainkan memberikan pendidikan moral yang sangat berguna bagi kepribadian seseorang. Dia adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka adalah penyemangat hidup kita.

Maka, menghormati guru berarti penghargaan terhadap anak-anak kita, dengan adanya guru, mereka dapat hidup dan berkembamg dengan baik.

#2. Adab Seorang Murid kepada Guru

Adapun adab seorang murid kepada guru antara lain yaitu :
  • Rendah hati terhadap gurunya, meskipun ilmu sudah lebih banyak ketimbang gurunya.
  • Senantiasa berkhidmat untuk guru-guru kita dengan mengharapkan balasan pahala serta kemuliaan di sisi Allah Subhanahu Wata�ala.
  • Menaati setiap arahan dan bimbingan guru.
  • Tidak sombong kepada guru ketika sudah sukses kelak.
  • Memandang guru dengan perasaan penuh hormat dan memuliakan serta mempercayai kesempurnaan ilmunya
#3. Manfaat Menghormati dan Menyayangi Guru

Dengan menghormati, mematuhi dan menyayangi guru, kita akan mendapat berbagai keuntungan, diantaranya yaitu :
  • Menerima pelajaran yang disampainkan dengan lebih mudah.
  • Ilmu yang diperoleh dari guru akan menjadi manfaat bagi orang lain.
  • Ilmu yang telah diperoleh akan menjadi berkah dalam kehidupan kita.
  • Akan selalu didoakan oleh guru.
  • Akan membawa berkah dan nikmat dari Allah Subhanahu Wata�ala.
  • Seorang guru tidak selalu di atas muridnya. Ilmu dan kelebihan itu merupakan anugerah Allah Subhanahu Wata�ala, dan akan diberikan-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.

C. Menerapkan Perilaku yang Mulia kepada Orang Tua dan Guru


#1. Cara Kita Berbakti kepada Orang Tua 

Contoh patuh dan hormat kepada orang tua antara lain yaitu :

a.) Jika orang tua masih hidup 
  • Mendengarkan segala nasihatnya.
  • Tidak memotong pembicaraan.
  • Mengucapkan salam ketika bertemu atau berpisah.
  • Meminta izin ketika hendak pergi ke luar rumah.
  • Mencium tangan orang tua ketika hendak pergi atau pulang ke rumah.
  • Membantu pekerjaan orang tua.
b.) Jika orang tua sudah meninggal
  • Mengurus jenazahnya dengan sebaik-baiknya.
  • Melaksanakan wasiatnya.
  • Melunasi semua hutang-hutangnya.
  • Mendoakannya.
  • Memuliakan sahabat-sahabatnya.
  • Meneruskan silaturahmi yang dibinanya sewaktu masih hidup.
#2. Perilaku Kita untuk Berbakti kepada Guru
  • Mendengarkan pelajaran yang diberikannya.
  • Mengucap salam ketika bertemu.
  • Jujur dalam berbicara kepadanya.
  • Mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya kepada orang lain.
  • Tidak melawan, menipu, dan membuka rahasia guru.
Demikianlah artikel mengenai Hormat, Patuh dan Sayang kepada Kedua Orang Tua dan Guru dalam Perspektif Islam, semoga dapat menambah pribadi kita menjadi lebih baik lagi.
Read More