Showing posts with label Sejarah Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Indonesia. Show all posts
Faktor Penyebab & Latar Belakang Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Faktor Penyebab & Latar Belakang Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia

Pada zaman dahulu, sekitar tahun 500 Masehi, bangsa Eropa telah menikmati dan mengonsumsi rempah-rempah yang berasal dari Timur, terutama dari Nusantara (Indonesia).

Sebenarnya negeri yang kita cintai ini dulunya adalah salah satu negara dengan penghasil rempah terbesar di dunia, terutama di Maluku. Hasil bumi dari Nusantara di distribusikan dari pulau ke pulau, dari negara ke negara dengan perantara perdagangan.

Faktor Penyebab & Latar Belakang Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia
Peta jalur perdagangan Indonesia (sumber gambar : wikipedia.org)
Perdagangan ini bersifat massive/berantai sehingga bisa sampai ke Eropa. Para pedagang dari Gujarat (India), Persia dan Arab membawa barang dagangan dari Indonesia menuju Teluk Persia dan Laut Merah.

Hasil dagangan tersebut kemudian didistribusikan ke berbagai pelabuhan di pantai Laut Tengah bagian Timur seperti Konstantinopel, Iskandariyah, dan Sidon. Dari situ, didistribusikan lagi ke daerah lain sehingga bangsa Eropa dapat dengan mudah membelinya. 

Bangsa Eropa sendiri kemudian menyebarkannya lagi ke negaranya, misalnya membawanya ke pelabuhan di Eropa Selatan terlebih dahulu. Dari Eropa Selatan, barang dagangan tersebut disebarkan lagi ke Eropa Barat, Eropa Tengah dan Eropa Utara.

Proses transaksi perdagangan tersebut berjalan dengan lancar, hingga suatu ketika bangsa Eropa mengalami krisis dan kemerosotan ekonomi. Hal tersebut memicu bangsa Eropa untuk mengarungi luasnya samudera. Hingga sampailah mereka ke Nusantara (Indonesia), dengan berbagai dalih dan tujuan. 

Tapi mau ngapain sih mereka ? Kenapa mereka rela datang jauh-jauh dari Eropa ke Nusantara (Indonesia) ?

Untuk menjawabnya, sebenarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan/melatarbelakangi kedatangan bangsa barat ke Indonesia, mari kita simak satu per satu.....

Faktor Penyebab & Latar Belakang Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia


1. Perang Salib

Pada abad ke-7 kota Jerusalem jatuh ke tangan banga Arab. Peziarah dari Eropa masih diperkenankan berkunjung sehingga tidak menimbulkan konflik. Namun setelah bangsa Turki menguasai Jerusalem (1070) para peziarah Kristen dilarang mengunjungi kota suci tersebut, sehingga berkobar Perang Salib yang terjadi tujuh kali sepanjang tahun 1070-1291 (sekitar 200 tahun).
Dinamai Perang Salib oleh orang Kristen, dan dinamai Perang Suci oleh orang Islam.
Perang ini melibatkan sangat banyak orang, terdiri dari orang-orang Turki Seljuk dan Arab melawan bangsa Eropa. Pada akhirnya kota Jerusalem berhasil dikuasai oleh orang Islam. Namun bangsa Eropa tak tinggal diam, mereka ingin balas dendam. Raja Richard The Lion Heart (Inggris) menghimbau para Raja di Eropa untuk merebut kekuasaan kota Jarusalem. Mereka berusaha namun gagal.

Perang ini mengakibatkan terputusnya hubungan perdagangan antara Eropa dengan Asia Barat dan memicu persaingan antar bangsa di Eropa untuk mencari dunia baru.

Adapun faktor penyebab perang salib yaitu (saya simpulkan) :
  • Para peziarah Kristen dilarang mengunjungi Jerusalem.
  • Keinginan merebut Spanyol yang telah dikuasai Dinasti Umayyah selama 7 abad.
  • Usaha untuk mempersatukan kembali Gereja Roma dengan Gereja Romawi Timur, seperti di Konstantinopel, Jerusalem dan Aleksandria yang dipelopori oleh Paus Urbanus.
Dampak perang salib antara lain :
  • Terputusnya jalur perdagangan antara Eropa dan Asia Barat (Timur Tengah), sehingga pedagang-pedagang dari Eropa mulai mencari jalan lain untuk mendapat rempah-rempah.
  • Karena kekalahan dalam Perang Salib, bangsa Eropa menyadari bahwa mereka telah tertinggal dari orang-orang Islam dan bangsa Timur. Kelemahan tersebut menjadi gebrakan dahsyat untuk mengejar ketertinggalan. Mereka belajar dari karya besar orang-orang Islam dan berusaha mengembangkan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) secara besar-besaran.
  • Kekalahan Perang Salib tentu meninggalkan luka yang dalam. Sebagian orang-orang Kristen pada akhirnya ingin membalaskan dendam kepada umat Islam, tentunya dengan motivasi yang tinggi untuk mengungguli umat Islam.  
2. Jatuhnya kota Konstantinopel 

Setelah adanya perang salib yang dimenangkan oleh umat Islam, terjadi perubahan tatanan politik. Perubahan itu memunculkan kekuasaan baru di Kekhalifahan Timur, yaitu kekuasaan Turki Usmani. Kekuasaan baru tersebut menjadi kekuatan besar yang sulit dikalahkan, hal ini terbukti dengan dikuasainya Mesir, Syria, Palestina, Mesopotamia, Asia Kecil, bahkan Kerajaan Romawi Timur. 

Jatuhnya kota Konstantinopel, ibukota Romawi Timur ke tangan kesultanan Turki (dipimpin oleh Sultan Muhammad II) pada tahun 1453 menyebabkan hubungan dagang bangsa Eropa ke dunia Timur menjadi terbatas. Laut Tengah yang digunakan bangsa Eropa untuk melakukan transaksi perdagangan dengan Asia Barat, seluruhnya berada di bawah pengawasan Turki Usmani. Mereka mempersulit kedatangan bangsa Eropa ke daerah kekuasaannya, kemudian terjadilah kemerosotan dagang.

Kawasan yang sangat bergantung pada Laut Tengah merasakan fenomena ini. Transaksi jual beli antar negara yang dulu sangat ramai menjadi sepi.

Hal ini mengakibatkan perekonomian di kawasan Laut Tengah (mediterania) menjadi terganggu. Terjadilah krisis ekonomi, misalnya saja krisis rempah-rempah dimana rempah-rempah menjadi sangat langka dan harganya amat mahal.

Bangsa Eropa kala itu benar-benar terpuruk, terlebih rempah-rempah menjadi sangat mahal. Dari sini kemudian muncul ide untuk mencari rempah-rempah dari tempat asalnya, �Dunia Timur�.

3. Pencarian rempah-rempah

Harga rempah-rempah yang sangat mahal kala itu bahkan bisa disejajarkan dengan harga emas, maka muncul istilah �semahal emas� atau �semahal Lada�. Bayangkan saja harga cabai atau pala kala itu sebanding dengan harga emas, bukankah hal itu sangat fantastis ? 

Padahal harga yang sebenarnya di tempat asalnya sangat murah. Oleh karena itu, orang-orang Eropa ingin mengambil dari tempat asalnya secara langsung. Dengan harapan lain, bangsanya menjadi penguasa rempah-rempah di Eropa.

Karena berbagai desakan tersebut, bangsa barat berlomba-lomba melakukan ekspedisi dan berusaha mencari jalan sendiri ke pusat rempah-rempah di Asia.

4. Penjelajahan Samudera

Pada akhir abad ke-15, akhirnya bangsa Eropa berusaha melakukan penjelajahan samudera. Ada beberapa faktor yang mendorong terjadinya penjelajahan samudera, antara lain yaitu :
  • Adanya keinginan untuk mencari rempah-rempah.
  • Ingin memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya.
  • Adanya jiwa petualang, sehingga menggugah semangat untuk berpetualang mengarungi samudera.
  • Semangat balas dendam untuk reconquista atau menaklukan orang-orang yang beragama Islam.
  • Jatuhnya kota Konstantinopel, pusatnya jalur perdagangan bangsa Eropa yang kemudian dikuasai Turki Usmani.
  • Tertarik dengan Kisah perjalanan Marcopolo (1254-1324) seorang pedagang dari Venesia, Italia ke Cina yang dituangkan ke dalam buku Book of Various Experience (Imago Mundi) yang mengisahkan tentang keajaiban dunia.
  • Keinginan yang tinggi untuk mengetahui lebih jauh rahasia bumi, keadaan geografi dan bangsa-bangsa yang tinggal di belahan bumi lain. Terlebih kala itu telah ditemukannya teori Heliosentris oleh Copernius bahwa pusat peredaran tata surya adalah matahari. Planet-planet berputar mengelilingi matahari dan bumi berputar pada porosnya. Bentuk bumi tidak rata tetapi bulat.
  • Ambisi pencapaian 3G (gold, glory and gospel). 
Mungkin sobat bertanya tanya, apa itu 3G ?

Ketika banga Eropa melakukan ekspedisi mengarungi luasnya samudera, mereka telah memiliki suatu pedoman/prinsip yang tujuannya adalah mewujudkan semangat 3G, yaitu :
  • Gold = Keinginan mencari kekayaan. Sebagai lammbang kekayaan, emas sudah disejajarkan dengan rempah-rempah, karena menguasai daerah penghasil rempah-rempah akan mendatangkan kekayaan melimpah.
  • Gospel = Menyebarkan agama nasrani. Sebagai utusan resmi kerajaan para penjelajah wajib mmengemban agama raja untuk disebarkan di daerah kekuasaannya, sehingga rabi dengan Al-Kitab (gospel) selalu menyertai setiap kegiatan ekspedisi.
  • Glory = Memperoleh kejayaan. Kejayaan sebagai suatu bangsa ditunjukkan dengan kemampuannya menaklukkan wilayah lain dan luasnya daerah jajahan.
5. Kemajuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi)

Karena semangat bangsa Eropa untuk mengejar ketertinggalan, bangsa Eropa mulai mencoba untuk melakukan penyesuaian yang lebih baik terhadap orang-orang Islam dan orang Timur untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemajuan teknologi yang semakin berkembang pesat tersebut telah dibuktikan dengan beberapa hal yaitu :
  • Dikembangkannya teknik pembuatan kapal untuk mengarungi samudera.
  • Ditemukannya mesiu untuk persenjataan.
  • Ditemukannya kompas sebagai petunjuk arah.
Pada akhirnya bangsa Eropa mulai melangkah, menuju dunia Timur dan sampailah bangsa Eropa ke Nusantara (Indonesia). 

Yah, itu adalah beberapa faktor yang melatarbelakangi kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia. Tapi, ada satu pertanyaan, apa korelasi antara hal di atas dengan kedatangan bangsa barat ke Indonesia ?

1 hal, yaitu 3G. Sudah dijelaskan di atas bahwa bangsa Eropa mengarungi samudera untuk mencari kekayaan, kejayaan, dan menyebarkan agama kepada daerah yang dikunjungi. 

Mereka mengarungi samudera untuk mencari kekayaan dengan mendatangi pusat penghasil rempah dunia, Nusantara. Dengan harapan yang besar, mereka menginginkan kekayaan dari berjualan rempah-rempah. 

Mereka mencari kejayaan untuk membanggakan bangsanya, berlomba dengan bangsa Eropa lainnya. Menaklukan daerah yang pernah dikunjunginya.

Selain itu mereka juga mengemban tugas untuk menyebarkan agama Kristen.

Konsep dari 3G lambat laun berubah menjadi imperialisme dan kolonialisme. Kebaikan bangsa ini telah dirusak oleh keserakahan. Bangsa Eropa pada akhirnya mulai beralih haluan, dari yang berniat untuk berdagang berubah niatnya menjadi penjajah jahat.

Menguras dan mengeksploitasi seluruh kekayaan daerah jajahan yang dikuasainya, termasuk Nusantara (Indonesia).

^Referensi :
  • Buku LKS IPS SMP
Read More
Tujuan, Proses dan Latar Belakang Pendudukan Jepang di Indonesia

Tujuan, Proses dan Latar Belakang Pendudukan Jepang di Indonesia

Tujuan, Proses dan Latar Belakang Jepang Menjajah Indonesia �  Walaupun Jepang hanya menjajah Indonesia selama kurang lebih 3,5 tahun, tapi tetap saja kerugian yang ditimbulkan cukup berpengaruh terhadap bangsa Indonesia.
Tujuan, Proses dan Latar Belakang Pendudukan Jepang di Indonesia

Sehubungan dengan itu, Jepang tentu memiliki tujuan untuk menjajah Indonesia dan ada yang melatar belakangi penjajahan Jepang di Indonesia.

Ingin tahu penjelasannya lebih dalam lagi ? Yuk simak pembahasannya.....

A. LATAR BELAKANG PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA


#1. Restorasi Meiji

Awal mula Restorasi Meiji yaitu ditandai dengan pergantian pemegang kekuasaan pemerintahan Jepang, yang semula dipegang oleh Shogun Yoshinobu kemudian digantikan oleh Kaisar Tenno Meiji.

Setelah Jepang diperintah oleh Kaisar Tenno Meiji, Jepang melakukan berbagai restorasi di bidang pemerintahan, pendidikan, ekonomi, dan militer. Pembaharuan tersebut membawa akibat perubahan haluan politik Jepang yang semula menutup diri berubah menjadi Imperialis.

Dengan gerakan perubahan Restorasi Meiji yang dilakukan oleh Jepang, Jepang menjadi negara industri modern, perdagangan dan militer yang mampu bersaing dengan bangsa Barat.

Karena perubahan besar-besaran Jepang dalam berbagai bidang, tentu memaksa Jepang untuk mencari negara yang dapat dijadikan sebagai tujuan pemasaran, sumber bahan mentah dan bahan baku, serta tenaga kerja yang murah. Sayangnya gerakan Jepang kala itu masih bersifat imperialis sehingga merugikan wilayah telah diekspansi.

#2. Paham Hakko-Ichi-u

Paham Hakko-Ichi-u adalah paham yang berasal dari aliran shinto (Shintoisme), khususnya tentang Hakko-Ichi-u. Apa itu Hakko-Ichi-u ? Hakko-Ichi-u adalah ajaran tentang kesatuan keluarga umat manusia (dunia merupakan keluarga).

Ajaran ini diterjemahkan bahwa Jepang sebagai negara maju bertanggung jawab untuk membentuk kesatuan keluarga umat manusia dengan memajukan dan mempersatukan bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia.

Pada masa Kekaisaran Tenno Meiji, ajaran hakko ichiu dimodifikasi dan dipropagandakan dengan situasi dan kondisi pada saat itu, yang intinya antara lain :
  • Jepang merupakan pusatnya dunia dan Kaisar adalah pemimpinnya. Kaisar merupakan dewa di dunia yang merupakan perwujudan dari Dewi Matahari (Amiterasu Omikami).
  • Jepang dilindungi oleh kekuatan Kami (dewa) secara utuh sehingga Jepang merupakan negara yang kuat, istimewa dan lebih baik dari negara lainnya di dunia.
  • Jepang memiliki hak dan kewajiban untuk menyatukan berbagai bangsa di dunia menjadi satu keluarga di mana Jepang sebagai pemimpinnya.
Ajaran Hakko Ichiu telah berhasil mengorbankan semangat bangsa Jepang dan saat itu mulai tumbuh kepercayaan bahwa menaklukkan bangsa lain merupakan tugas suci yang mulia seperti halnya berbakti kepada Sang Kaisar.

Hakko-Ichi-u diperkuat oleh keterangan antropolog yang menyatakan bahwa bangsa Jepang dan Indonesia itu serumpun. Untuk merealisasikan keinginannya tersebut, maka sebelum Jepang datang ke Indonesia sudah mengirim para spionase terlebih dahulu. Spionase tersebut datang ke Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya.

#3. Jepang Tampil sebagai Negara Agresor (Militer Modern)

Perubahan besar-besaran karena Restorasi Meiji memberikan pengaruh cukup kuat, tak terkecuali di bidang kemiliteran. Dengan didukung semangat juang yang tinggi dan persenjataan modern, keberhasilan Jepang dalam bidang militer yakni mampu melakukan ekspansi dan bergabung dengan Inggris dalam persiapan untuk menyerang Rusia.

Karena paham politik yang sudah berubah haluan menjadi imperialis, maka Jepang membutuhkan daerah-daerah baru, salah satu yang dimaksud adalah Indonesia.

Keinginan Jepang untuk menguasai Indonesia dikarenakan Indonesia memiliki kekayaan Sumber Daya Alam yang dapat dimanfaatkan untuk perkembangan industri perang.

Bukti dari keberhasilan Jepang dalam menginvasi negara lain dibuktikan dengan :
  • Pada tahun 1894-1895 : Merebut Semenanjung Liao Tsung, Cina dan Pulai Formosa, Korea.
  • Pada tahun 1904-1905 : Merebut Manchuria, Port Arthur dan Pulau Sachalin dari Rusia.
  • Pada tahun 1914-1918 : Merebut wilayah jajahan Jerman di Asia (Perang Dunia I).
  • Pada tahun 1927 (Pemerintahan Perdana Menteri Baron Tanaka) : Menguasai Asia Timur dan Asia Selatan.
  • Pada tahun 1931 : Menguasai Manchuria.
  • Pada tahun 1932 : Mendirikan Kerajaan Manchuria dan mengangkat henry Pu-Yi sebagai Rajanya.
Tampilnya Jepang sebagai Negara Industri Modern dan Indonesia yang Merupakan Negara Kaya Raya

Keberhasilan Jepang sebagai negara Industri terbesar di Asia karena pengaruh Restorasi Meiji mengakibatkan kekurangan sumber daya alam dan bahan baku yang dibutuhkan untuk mendukung perekonomian. Demi terwujudnya pemenuhan kebutuhan, Jepang melakukan ekspansi dan menyerbu Indonesia untuk mendapatkan SDA di Indonesia. Beragam kekayaan di Indonesia seperti :
  • Rempah-rempah di Maluku
  • Kekayaan emas di Pulau Sumatera
  • Kesuburan tanah Jawa
  • Minyak tanah
  • Karet
  • Kina
  • Bahan lapis baja
  • Dan lain-lain.
#4. Bergabungnya Jepang dengan Jerman saat Perang Dunia ke II

Saat perang dunia ke II, Jepang bergabung dengan Jerman untuk melawan Sekutu Amerika dan Belanda. Sehubungan dengan itu, Indonesia masih di bawah kekuasaan Kolonial Hindia-Belanda. Hal inilah yang kemudian memicu Jepang untuk segera menyerbu dan menguasai berbagai wilayah di Indonesia.

#5. Jepang Menyebut Dirinya sebagai Saudara Tua Indonesia

Pengakuan sebagai Saudara Tua bagi Indonesia ini merupakan salah satu bentuk propaganda Jepang untuk melegitimasi kekuasaan di Indonesia. Tentara Jepang juga mempropagandakan bahwa kedatangannya ke Indonesia untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman penajajahan bangsa Barat.

Selain itu juga, Jepang melalui program Pan-Asia akan memajukan dan menyatukan seluruh rakyat Asia. Untuk lebih meyakinkan rakyat Indonesia, Jepang menegaskan kembali bahwa Jepang tidak lain adalah �Saudara Tua�, sehingga Jepang dan Indonesia sama.

B. TUJUAN PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA


    1. Indonesia dijadikan sebagai sumber dan penyuplai bahan mentah untuk kepentingan industri dan mesin perang Jepang.
    2. Posisi Indonesia yang sangat strategis dan jumlah penduduk Indonesia yang banyak dimanfaatkan sebagai tempat pemasaran hasil industri Jepang.
    3. Menjadikan Indonesia sebagai tempat mencari tenaga kerja murah untuk berbagai kepentingan Jepang. Tenaga kerja yang murah tersebut dapat dimanfaatkan Jepang untuk membantu Jepang dalam perang melawan Sekutu, sumber pendapatan ekonomi industri Jepang, dan lain-lain.
    4. Mengekspoitasi secara besar-besaran baik kekayaan SDA maupun SDM di Indonesia.

    C. PROSES PENGUASAAN KEPULAUAN INDONESIA OLEH JEPANG


    Pada Bulan Oktober 1941, Konoe Fumimaro menggantikan jenderal Hideki Tojo sebagai Perdana Menteri Perang. Pada akhir tahun 1940, untuk menguasai SDA di Asia Tenggara maka harus menghadapi Amerika, Inggris dan Belanda sekaligus.

    Kemudian Panglima Angkatan Laut Jepang yang bernama Admiral Isoroku Yamamoto mengembangkan strategi untuk mengerahkan seluruh kekuatan armadanya untuk 2 operasi besar-besaran. Seluruh potensi Angkatan Laut Jepang akan menyerang basis Armada Pasifik Amerika di Pearl Harbour di kepulauan Hawaii, kemudian serangan dilancarkan pada 7 Desember 1941. Karena penyerangan tersebut, maka pada tanggal 8 Desember 1941 Kongres Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Jepang.

    Sedangkan kekuatan Jepang kedua (sisa kekuatan Angkatan Laut) mendukung Angkatan Darat dalam Operasi Selatan yang menyerang Filipina, Malaya, Singapura, dan Jawa.

    Jepang mengarahkan serangannya ke Indonesia yang muncul dari utara dan timur. Serangan terhadap Indonesia bertujuan untuk mendapatkan cadangan logistik dan bahan industri perang (seperti minyak tanah, timah, dan aluminium). Hal itu dikarenakan persediaan minyak di Indonesia diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan Jepang selama Perang Pasifik.

    Pada Januari 1942, Jepang mendarat di Indonesia melalui Ambon dan seluruh Maluku. Meskipun pasukan Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) dan pasukan Australia berusaha mengahalangi, tapi kekuatan Jepang tidak dapat dibendung.

    Daerah Tarakan di Kalimantan Timur lalu dikuasai oleh Jepang bersamaan dengan Balikpapan pada 12 Januari 1942. Jepang kemudian menyerang Sumatera setelah berhasil memasuki Pontianak. Bersamaan dengan itu pada Februari 1942, Jepang melakukan serangan ke Jawa.

    Pada tanggal 1 Maret 1942, kemenangan tentara Jepang dalam Perang Pasifik menunjukkan kemampuan perang dalam mengontrol wilayah yang sangat luas, yaitu dari Burma (Myanmar) hingga ke Pulau Wake.

    Setelah berbagai daerah di Jawa dikuasai, selanjutnya Jepang memusatkan perhatiannya untuk menguasai tanah Jawa sebagai pusat pemerintahan Hindia-Belanda.

    Karena gencatan invasi oleh Jepang, Belanda pernah membentuk ABDACOM (American British Dutch Australian Command) yang berarti Komando Gabungan Tentara Serikat dengan pusat/markasnya di Lembang.

    Panglima dari pergerakan tersebut bernama Jenderal Sir Archhibald. Kemudian Letnan Jenderal Ter Poorten diangkat sebagai panglima perang tentara Hindia-Belanda. Sementara itu, Gubernur Jenderal Carda pada bulan Februari 1942 sudah mengungsi ke Bandung.

    Ketika Jepang mulai menguasai Jawa, ada beberapa pertempuran di Laut Jawa, diantaranya yaitu antara tentara Jepang dengan Angkatan Laut Belanda di bawah Laksamana Karel Doorman. Dalam pertempuran ini, Laksamana Karel Doorman dan beberapa kapal Belanda berhasil ditenggelamkan oleh tentara Jepang.

    Sisa-sisa pasukan dan kapal Belanda yang berhasil lolos terus melarikan diri menuju Australia. Sementara itu, pada tanggal 1 Maret 1942 Jenderal Immamura dan pasukannya mendarat di Jawa. Pendaratan tersebut dilaksanakan di tiga tempat, yakni :
    • Di Banten dipimpin oleh Jenderal Immamura sendiri.
    • Di Eretan Wetan-Indramayu dipimpin oleh Kolonel Tonishoridan.
    • Di sekitar Bojonegoro dikoordinasi oleh Mayjen Tsuchiashi.
    Ketiga tempat tersebut merupakan siasat Jepang, yang mana tempat-tempat tersebut memang tidak diduga oleh Belanda.

    Untuk menghadapi pasukan Jepang, sebenarnya sekutu sudah mempersiapkan diri dengan tentara gabungan ABDACOM dan ditambah satu kompi Akademi Militer Kerajaan dan Korps Pendidikan Perwira Cadangan di Jawa Barat.

    Sehubungan di Jawa Tengah telah disiapkan 4 batalion infanteri, sedangkan di Jawa Timur terdiri dari 3 batalion pasukan bantuan Indonesia dan 1 batalion marinir, serta ditambah dengan berbagai satuan dari Inggris dan Amerika. Meskipun demikian, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa dengan jumlah yang sangat besar, sehingga pasukan Belanda tidak mampu memberikan perlawanan.

    Pasukan Jepang kala itu dengan cepat menyerbu berbagai pusat kekuatan tentara Belanda di Jawa, terbukti pada 5 Maret 1942 Batavia jatuh ke tangan Jepang.

    Tentara Jepang kemudian bergerak ke arah selatan dan menguasai kota Bogor yang kala itu bernama Buitenzorg. Seiring berjalannya waktu, kota-kota lain di Jawa juga jatuh ke genggaman Jepang.

    Karena banyaknya kekalahan tersebut, maka pada tanggal 8 Maret 1942 Jenderal Ter Poorten atas nama komandan pasukan Belanda/Sekutu menandatangani penyerahan tidak bersyarat kepada Jepang yang diwakili oleh Jenderal Immamura.

    Penandatanganan tersebut berlangsung di Kalijati, Subang dan dengan demikian maka berakhirlah sudah penjajahan Belanda di Indonesia. Saat itu pula, Jepang mengambil alih penjajahan di Indonesia.

    Gubernur Jenderal Tjarda ditawan, namun Belanda segera mendirikan pemerintahan pelarian (exile government) di Australia di bawah pimpinan H.J. Van Mook.

    Baca juga : dampak pendudukan Jepang di Indonesia

    Demikianlah artikel mengenai tujuan Jepang menjajah Indonesia, proses masuknya Jepang ke Indonesia serta latar belakang pendudukan Jepang di Indonesia. Semoga dapat menambah wawasan sobat mengenai sejarah penjajahan Jepang di Indonesia.

    #Salam_Pelajar_Indonesia
    Read More
    Dampak Pendudukan Jepang dalam Berbagai Aspek Kehidupan Bangsa Indonesia

    Dampak Pendudukan Jepang dalam Berbagai Aspek Kehidupan Bangsa Indonesia

    Akibat/Dampak Positif dan Negatif yang ditimbulkan dari Pendudukan Jepang di Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan � Jepang sebagai Negara Asia yang mampu mengusir Belanda dari Indonesia tentu memberikan pengeruh terhadap perkembangan bangsa Indonesia. 

    Dampak Pendudukan Jepang dalam Berbagai Aspek Kehidupan Bangsa Indonesia

    Saat Jepang menjajah Indonesia, mereka melakukan berbagai tindakan yang mampu memberikan dampak bagi bangsa Indonesia.
    Dampak tersebut ada sisi negatifnya ada juga sisi positifnya. Kebijakan Jepang saat menduduki Indonesia tidak sepenuhnya merugikan, ada beberapa kebijakan yang memberi kesan positif bagi perkembangan bangsa Indonesia.
    Apa saja itu dampak positif dan negatifnya ? Berikut adalah ulasannya...

    A. DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA [Secara Singkat]


    a.) Dampak Positif Pendudukan Jepang

    Bidang Politik
    • Melarang penggunaan Bahasa Belanda dan memperbolehkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.
    • Dibentuknya badan persiapan kemerdekaan Indonesia, yaitu BPUPKI dan PPKI. Dengan kemunculan badan persiapan ini, muncullah ide Pancasila.
    • Mendukung semangat Anti-Belanda, sehingga secara tidak langsung Jepang ikut mendukung semangat jiwa nasionalisme Indonesia.
    • Memberi kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk ikut serta dalam pemerintahan politik.
    Bidang Ekonomi
    • Didirikannya koperasi yang bertujuan untuk kepentingan bersama.
    • Diperkenalkannya sistem baru bagi pertanian yaitu line system. Sistem ini akan memberikan pengaturan bercocok tanam yang efisien sehingga akan meningkatkan produksi pangan.
    Bidang Sosial
    • Mulai berkembangnya tradisi kerja bakti massal melalui kinrohosi.
    • Munculnya sikap persatuan dan kesatuan dalam mengusir penjajah di Indonesia.
    • Bangsa Indonesia mengalami berbagai pembaharuan akibat didikkan Jepang yang menumbuhkan kesadaran dan keyakinan yang tinggi akan harga dirinya.
    • Pembentukan strata masyarakat hingga tingkat paling bawah yaitu Tonarigami atau Rukun Tetangga (RT).
    Bidang Budaya
    • Jepang mendirikan Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan) tanggal 1 April 1943 di Jakarta. Fungsi lembaga ini mewadahi aktivitas kebudayaan Indonesia.
    • Pembentukan Persatuan Aktris Film Indonesia (PERSAFI) yang bertujuan mendorong aktris-aktris profesional dan amatir Indonesia untuk bereksperimen dengan mengubah lakon terjemahan bahasa asing ke Bahasa Indonesia.
    Bidang Pendidikan
    • Dalam pendidikan diperkenalkannya sistem Nippon Sentris dan diperkenalkannya kegiatan upacara dalam sekolah.
    • Mendirikan sekolah seperti SD 6 tahun, SLTP/SMP 9 tahun dan SLTA/SMA.
    Bidang Birokrasi dan Militer
    • Jepang memberikan pelatihan militer-semimiliter kepada pemuda Indonesia dan mempersenjatai pemuda demi keperluan perang Jepang. Seperti mengikutsertakan pemuda ke organisasi keibodan, heiho, suisintai dan sebagainya.
    Peninggalan peralatan militer dan infrastruktur perang milik Jepang yang dapat digunakan sebagai modal untuk mempertahankan kemerdekaan. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu, bangak peralatan militer Jepang yang kemudian dikuasai oleh pemuda Indonesia.

    b.) Dampak Negatif Pendudukan Jepang

    Bidang Politik
    • Dilarangnya kegiatan politik dan dibubarkannya organisasi politik yang ada.
    • Dilarangnya segala jenis rapat dan kegiatan politik.
    Bidang Ekonomi
    • Jepang mengeksploitasi SDA dan SDM untuk kepentingan perang.
    • Jepang mengmbil secara paksa makanan, pakaian dan pembekalan lainnya dari rakyat Indonesia tanpa kompensasi.
    • Terjadinya inflasi dan krisis ekonomi yang sangat menyengsarakan rakyat.
    • Terputusnya hubungan antar daerah akibat dari self sufficiency.
    • Kegiatan ekonomi diarahkan untuk kepentingan perang sehingga seluruh potensi SDA dan bahan mentah lainnya digunakan untuk mendukung industri perang.
    • Penerapan sanksi yang berat oleh Jepang dengan menerapkan sistem ekonomi secara ketat.
    • Menerapkan sistem ekonomi perang dan sistem autarki (memenuhi kebutuhan daerah sendiri dan menunjang kegiatan perang).
    Bidang Sosial
    • Adanya praktik perbudakan wanita (yugun ianfu). Banyak wanita muda Indonesia yang digunakan sebagai wanita penghibur bagi perang Jepang.
    • Kegiatan romusha yang menyengsarakan dan memiskinkan rakyat.
    • Pembatasan pers sehingga tidak ada pers yang independent dan pengawasan berada di bawah pengawasan Jepang.
    • Terjadinya kondisi yang parah dan maraknya tindak kriminal seperti perampokan, pemerkosaan dan lain-lain.
    Bidang Pendidikan
    • Banyak guru-guru yang dipekerjakan sebagai pejabat pada masa itu yang menyebabkan kemunduran standar pendidikan secara tajam.
    Bidang Birokrasi dan Militer
    • Pelanggaran HAM yang dilakukan oleh tentara Jepang karena menghukum keras orang-orang yang menyimpang/menentang dari Jepang. 

    B. DAMPAK PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA [Secara Kronologi/Panjang Lebar]


    #1. Bidang Politik

    Dalam bidang politik, Jepang melakukan kebijakan dengan melarang penggunaan Bahasa Belanda dan mewajibkan Bahasa Jepang. Struktur pemerintahan dibuat sesuai dengan keinginan Jepang, misalnya desa dengan Ku, kecamatan dengan So, kawedanan dengan Gu,  kotapraja dengan Syi, kabupaten dengan Ken, dan karesidenan dengan Syu.

    Setiap upacara bendera dilakukan penghormatan ke arah Tokyo dengan membungkukkan badan 90 derajat yang ditujukan pada Kaisar Jepang Tenno Heika.

    Jepang juga membentuk pemerintahan militer dengan angkatan darat dan angkatan laut. Angkatan darat yang meliputi Jawa-Madura berpusat di Batavia. Sementara itu di Sumatera berpusat di Bukittinggi, angkatan laut di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian berpusat di Ujungpandang (sekarang Makassar).

    Pemerintahan itu berada di bawah pimpinan panglima tertinggi Jepang untuk Asia Tenggara yang berkedudukan di Dalat, Vietnam.

    Selain itu, Jepang membentuk organisasi-organisasi dengan maksud sebagai alat propaganda, seperti G3A (Gerakan tiga A), PUTERA, Jawa Hokokai, MIAI dan Maysumi. Berbagai organisasi tersebut banyak mengaami kegagalan bahkan dimanfaatkan oleh kaum muda untuk pergerakan nasional.

    Tujuan utama pemerintah Jepang yaitu untuk menghapuskan seluruh pengaruh Barat dan menggalang masyarakat agar memihak Jepang.

    Pemerintah Jepang juga menjanjikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia yang diucapkan oleh PM Tojo dalam kunjungannya ke Indonesia pada September 1943.

    Kebijakan politik Jepang yang sangat keras itu membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia terutama kaum nasionalis untuk segera mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
    Secara singkat, dalam bidang politik Jepang melakukan berbagai propaganda, antara lain yaitu :
    • Menganggap Jepang sebagai saudara tua bangsa Asia atau sering disebut Hakko Ichiu.
    • Membangun pendidikan berbentuk beasiswa untuk mencuri simpati rakyat.
    • Melancarkan semboyan 3A (Jepang pemimpin Asia, Jepang pelindung Asia, Jepang cahaya Asia).
    • Menarik simpati umat islam dengan memberangkatkan ibadah Haji.
    • Menarik simpati organisasi Islam seperti organisasi MIAI.
    • Melaksanakan politik dumping.
    • Mengajak tokoh perjuangan Nasional dengan cara membebaskan tokoh tersebut dari penahanan Belanda.
    #2. Bidang Ekonomi dan Sosial-Budaya

    Untuk membiayai perang pasifik, Jepang mengerahkan semua tenaga kerja Indonesia. Mereka dikerahkan untuk membuat benteng pertahanan. Awal mulanya, tenaga kerja dikerahkan dari Pulau Jawa yang padat penduduknya, selanjutnya di kota-kota dibentuk barisan romusha sebagai sarana propaganda. 

    Propaganda tersebut kemudian menarik para pemuda untuk bergabung dengan sukarela. Pengerahan tenaga kerja yang awal mulanya sukarela lama kelamaan berubah menjadi paksaan. Panitia pengerahan disebut dengan Romukyokai, yang ada di setiap daerah.

    Para pekerja romusa itu diperlakukan dengan kasar dan kejam. Mereka tidak dijamin kehidupannya, kesehatan dan makan tidak diperhatikan.

    Banyak pekerja romusa yang jatuh sakit dan meninggal. Untuk mengembaikan citranya, jepang mengadakan propaganda dengan menyebut pekerja romusa sebagai �Pahlawan Pekerja� atau �Prajurit Ekonomi�. Mereka digambarkan sebagai sosok suci dalam menjalankan tugasnya. Para pekerja romusa jga dikirim ke Birma, Muangthai, Vietnam, Serawak, dan Malaya.

    Saat itu kondisi masyarakat amat menyedihkan. Bahkan makanan sulit didapat akibat banyak petani yang menjadi romusa. Gelandangan di kota besar (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya) semakin tumbuh subur. Tidak jarang pula mereka mati kelaparan di jalanan atau di kolong jembatan.

    Berbagai penyakit juga menjangkit rakyat Indonesia. Selain itu pasar gelap semakin merajalela kala itu. Barang-barang keperluan sulit didapatkan dan sedikit jumlahnya. Uang yang dikeluarkan Jepang tidak ada jaminannya, bahkan mengalami inflasi yang parah. 

    Bahan-bahan pakaian sulit didapatkan, bahkan orang-orang menggunakan karung goni sebagai bahan pakaian mereka. Obat-obatan juga sangat sulit didapatkan.

    Semua objek vital dan alat-alat produksi dikuasai Jepang dan diawasi sangat ketat. Pemerintah Jepang mengeluarkan peraturan untuk menjalankan perekonomian. Perkebunan diawasi dan dipegang sepenuhnya oleh pemerintah Jepang, banyak juga perkebunan yang dirusak lalu diganti tanamannya untuk keperluan perang.

    Rakyat dilarang menanamtabu dan membuat gula. Beberapa perusahaan swasta Jepang yang menangani pabrik gula adalah Meiji Seito Kaisya.

    Masyarakat juga diwajibkan untuk melakukan pekerjaan yang dinilai berguna bagi masyarakat luas, misalnya memperbaiki jalan, saluran air atau menanam pohon jarak (dilakukan secara bergantian). Untuk menjalankan tugas tersebut dengan baik, maka dibentuklah tonarigumi (rukun tetangga) untuk memobilisasi massa dengan efektif.

    Sementara itu, komunikasi di Indonesia mengalami kesulitan baik komunikasi antar pulau maupun komunikasi dengan dunia luar, karena semua saluran komunikasi dikendalikan oleh Jepang.

    Semua nama kota yang menggunakan Bahasa Belanda diganti dengan Bahasa Indonesia, seperti Batavia menjadi Jakarta dan Buitenzorg menjadi Bogor. Sementara itu, untuk mengawasi karya para seniman agar tidak menyimpang dari tujuan Jepang, maka didirikanlah pusat kebudayaan pada tanggal 1 April 1943 di Jakarta, yang dinamai Keimun Bunka Shidosho.

    Jepang yang semula disambut dengan senang hati, lambat laun berubah menjadi kebencian. Rakyat bahkan lebih benci pada pemerintah Jepang daripada pemerintah Kolonial Belanda. 

    Mengapa ? Hal ini dapat dikarenakan beberapa hal, yaitu :

    Jepang seringkali bertindak sewenang-wenang. Seringkali rakyat tidak bersalah ditangkap, ditahan dan disiksa. Kekejaman itu dilakukan oleh kempetai (polisi militer Jepang).

    Banyak gadis dan perempuan Indonesia yang ditipu Jepang dengan dalih untuk bekerja sebagai perawat atau disekolahkan, namun ternyata hanya dipaksa untuk melayani para kempetai (nafsu seks). Para gadis tersebut dan perempuan tersebut disekap dalam kamp-kamp yang tertutup sebagai wanita penghibur. Kamp-kamp tersebut dapat ditemukan di Semarang, Jakarta, Solo, dan Sumatera Barat.

    #3. Bidang Pendidikan

    Pada masa pendudukan Jepang, pendidikan Indonesia semakin memburuk. Pendidikan tingkat dasar hanya satu (pendidikan 6 tahun), hal ini dikarenakan untuk memudahkan pengawasan. Para pelajar wajib mempelajari Bahasa Jepang. 

    Mereka juga harus mempelajari adat istiadat Jepang dan lagu kebangsaan Jepang (Kimigayo) serta gerak sebelum memulai pelajaran. Bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar di semua sekolah dan dianggap sebagai mata pelajaran wajib.

    Sementara itu perguruan tinggi ditutup pada tahun 1943. Beberapa perguruan tinggi yang dibuka lagi adalah Perguruan Tinggi Kedokteran (Ika Daigaku) di Jakarta dan Perguruan Tinggi Teknik (Kogyo Daigaku) di Bandung.

    Jepang juga membentuk Akademi Pamong Praja (Konkoku Gakuin) di Jakarta, serta Perguruan Tinggi Hewan di Bogor. Saat itu perguruan tinggi di Indonesia mengalami kemunduran dan kemerosotan yang tajam.

    Keuntungannya pada masa Jepang yaitu penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Melalui sekolah-sekolah itulah Jepang melakukan indoktrinisasi. Menurut Jepang, kader-kader dibentuk untuk mempelopori dan melaksanakan konsepsi kemakmuran Asia Raya. Namun bagi bangsa Indonesia tugas berat itu merupakan persiapan bagi pemuda terpelajar untuk mencapai kemerdekaan.

    Ketika sudah dididik untuk selang waktu beberapa tahun, para pelajar dianjurkan untuk masuk ke militer. Mereka diajarkan untuk masuk ke organisasi Heiho (sebagai pembantu prajurit). Selain itu juga, para pemuda dianjurkan untuk masuk ke barisan seinendan dan keibodan (pembantu polisi). 

    Mereka dilatih baris-berbaris meskipun hanya bersenjata kayu. Dalam seinendan mereka dijadikan barisan pelopor atau suisintai. Barisan pelopor itu mendapat pelatihan yang berat. Latihan militer itu kelak berguna bagi bangsa Indonesia.

    #4. Bidang Birokrasi dan Militer

    Dalam bidang birokrasi, dengan dikeluarkannya UU No. 27 tentang Aturan Pemerintah Daerah dan UU No. 28 tentang Pemerintah Syu dan Tokubetsushi Syi, maka berakhirlah pemerintahan sementara. 

    Kedua aturan tersebut merupakan struktur pemerintahan dengan datangnya tenaga sipil dari Jepang di Jawa. Mereka ditempatkan di Jawa untuk melakukan tujuan reorganisasi Jepang, yang menjadikan Jawa sebagai pusat perbekalan perang di wilayah Selatan.

    Sesuai dengan UU tersebut, seluruh kota di Jawa-Madura (kecuali Solo dan Yogyakarta) dibagi atas syu, syi, gen, son, dan ku. Pembentukan provinsi yang dilakukan Belanda diganti dan disesuaikan dengan struktur Jepang, daerah pemerintahan yang tertinggi, yaitu Syu. 

    Meskipun luas wilayah syu sebesar wilayah karesidenan, namun fungsinya berbeda. Apabila residen merupakan pembantu gubernur, maka Syu adalah pemerintahan otonomi dibawah shocukan yang berkedudukan sama dengan gubernur.

    Pada masa pendudukan Jepang juga dibentuk Chou Sangi yang fungsinya tidak jauh dari Volkstraad. Dalam volkstraad masih dapat dilakukan kritik pemerintah dengan bebas, sebaliknya chou sangi tidak dapat melakukan hal itu.

    Masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia mendapatkan banyak manfaat di bidang militer. Mereka dapat kesempatan untuk berlatih militer, baris berbaris, latihan menggunakan senjata, masuk organisasi militer bahkan ikut latihan perang.

    Melalui propagandanya, Jepang berhasil membujuk penduduk untuk menghadapi sekutu. Karena itulah mereka melatih menduduk dengan beragam latihan kemiliteran.

    Bekas pasukan PETA itulah yang menjadi Badan Keamanan Rakyat (BPR), yang menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan sekarang dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

    Demikianlah artikel mengenai dampak pendudukan jepang dalam berbagai aspek kehidupan bangsa indonesia, semoga dapat menambah wawasan kita terhadap sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

    Baca juga :

    Salam Generasi Muda Indonesia !

    ^ Referensi :
    • Buku BSE K13 Sejarah Indonesia semester II

    Read More
    Pembentukan Pemerintahan Militer-Sipil Jepang Saat Menjajah Indonesia

    Pembentukan Pemerintahan Militer-Sipil Jepang Saat Menjajah Indonesia

    Pembentukan Struktur/Susunan Pemerintahan Militer dan Sipil Jepang di Indonesia serta pembagian wilayah Indonesia oleh Jepang � Bermula dari Perang Dunia ke II, Jepang mulai melakukan gencatan senjata terhadap tentara Belanda di indonesia. 

    Pembentukan Pemerintahan Militer-Sipil Jepang Saat Menjajah Indonesia


    Tentara Jepang mulai menyerbu dan menguasai dari daerah Tarakan, selanjutnya menguasai Balikpapan, Pontianak, Banjarmasin, dan Palembang.

    Pasukan Jepang kala itu dengan cepat menyerang pusat-pusat kekuatan tentara Belanda di Jawa. Terbukti pada tanggal 5 Maret 1942 Batavia jatuh ke tangan Jepang. Tentara Jepang kemudian bergerak ke arah selatan lalu menguasai kota Buitenzorg (Bogor) dan melanjutkan ke Subang lalu terakhir ke Kalijati.

    Selanjutnya kota-kota di Jawa yang lain jatuh ke tangan Jepang dengan mudahnya. Karena banyaknya wilayah yang jatuh ke tangan Jepang, maka pada tanggal 8 Maret 1942 Jenderal Ter Poorten (komandan pasukan Belanda/Sekutu) menandatangani penyerahan tidak bersyarat kepada Jepang yang diwakili oleh Jenderal Imamura. Penandatanganan ini dilaksanakan di Kalijati, Subang. 

    Saat itu pula berakhirlah penjajahan Belanda di Indonesia. Hal ini memberikan dampak positif bagi Indonesia karena penjajahan Belanda selama 350 tahun telah berakhir, namun sisi negatifnya Indonesia berada dalam genggaman Jepang. 

    Berangsur-angsur waktu kemudian, Jepang terus mempertahankan kekuasaannya di Indonesia. Untuk menambah kekuatan secara terorganisir, Jepang membutuhkan sistem pemerintahan di Indonesia yang efektif dan menguntungkan. Untuk itulah Jepang kemudian membentuk pemerintahan militer dan pemerintahan sipil di Indonesia.

    Ingin tahu lebih dalam mengenai pemerintahan Jepang kala itu ? Yuk simak pembahasannya...

    A. Pembagian Wilayah Pemerintahan Militer di Indonesia oleh Jepang


    Di seluruh Indonesia bekas Hindia-Belanda, wilayah dibagi menjadi tiga wilayah pemerintahan militer Jepang. Adapun wilayahnya yaitu :

    • Tomi Shudan atau pemerintahan militer Angkatan Darat (tentara ke-25) : meliputi daerah Sumatera dan berpusat di Bukittinggi.
    • Asamu Shudan atau pemerintahan militer Angkatan Darat (tentara ke-16) : meliputi Jawa dan Madura, pusatnya di Jakarta. Kekuatan militer ini kemudian ditambah dengan Angkatan Laut (Dai Ni Nankenkantai).
    • Pemerintahan militer Angkatan Laut (Armada Selatan ke-2) : meliputi daerah Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Berpusat di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
    Pembagian administrasi seperti itu terkait dengan kepentingan Jepang terhadap tiap-tiap daerah di Indonesia, baik dari segi militer ataupun politik ekonomi.

    B. Pembentukan Pemerintahan Militer Jepang


    Pada pertengahan tahun 1942 timbul pemikiran dari Markas Besar Tentara Jepang agar penduduk di daerah pendudukan dilibatkan dalam aktivitas pertahanan dan kemiliteran serta semi-militer. Oleh karena itu, pemerintahan Jepang di Indonesia kemudian membentuk pemerintahan militer. 

    Saat itu pula, Pulau Jawa menjadi pusat pemerintahan yang sangat penting dan ketika itu masih diberlakukan pemerintahan sementara.

    Pemerintahan sementara itu didasarkan pada Osamu Seirei atau Undang-Undang yang dikeluarkan oleh Panglima Tentara ke-16. Undang-Undang tersebut menyatakan beberapa hal, diantaranya yaitu :
    • Jabatan Gubernur Jenderal pada masa hindia-Belanda dihapuskan dan segala kekuasaan yang dahulu dipegangnya diambil alih oleh panglima tentara Jepang di Jawa.
    • Para pejabat pemerintah sipil beserta pegawainya di masa Hindia-Belanda tetap diakui kedudukannya, namun diharuskan memiliki kesetiaan terhadap tentara pendudukan Jepang.
    • Badan-badan pemerintah dan undang-undang di masa Belanda tetap diakui secara sah untuk sementara waktu, asalkan tidak bertentangan dengan aturan pemerintah militer Jepang.
    Adapun susunan pemerintahan militer Jepang tersebut antara lain yaitu :

    #1. Gunshirekan (Panglima Tentara) atau Seiko Shikikan (Panglima Tertinggi)

    Jabatan pemerintah yang satu ini merupakan jabatan tertinggi dengan kata lain pucuk pimpinan. Panglima tentara yang pertama yang menjabat yaitu Jenderal Hitoshi Imamura. Jabatan ini ibarat raja atau seorang presiden.

    #2. Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer)

    Jabatan ini semacam seorang menteri koordinator dalam sebuag negara. Genseikan ini dirangkap oleh kepala staf, dan kepala staf yang pertama adalah Mayor Jenderal Seizaburo Okasaki. Kantor pusat pemerintahan militer ini disebut juga dengan Genseikanbu. Di lingkungan Guneseikanbu terdapat lima bu (departemen). 

    Adapun macam bu tersebut antara lain :
    • Somobu : departemen dalam negeri.
    • Zaimobu : departemen keuangan.
    • Sangvobu : departemen perusahaan, industri, dan kerajinan tangan (berurusan dengan praktik ekonomi).
    • Kotsubu : departemen lalu lintas.
    • Shihobu : departemen kehakiman.
    #3. Gunseibu 

    Gunseibu yaitu koordinator pemerintahan yang bertugas memulihkan ketertiban dan keamanan atau semacam gubernur, meliputi kawasan :
    • Jawa Barat : berpusat di Bandung.
    • Jawa Tengah : berpusat di Semarang.
    • Jawa Timur : berpusat di Surabaya.
    • Ditambah lagi dua daerah istimewa (kochi) yaitu Yogyakarta dan Surakarta.
    Di dalam pemerintahan tersebut, Jepang juga membentuk kesatuan Kempetai (Polisi Militer). Selanjutnya, pemerintahan Jepang juga membentuk Cuo Sangi In (Badan Pertimbangan Pusat). Badan ini bertugas untuk mengajukan usulan kepada pemerintah serta menjawab berbagai pertanyaan pemerintah tentang masalah politik dan memberikan saran tindakan yang perlu dilakukan oleh pemerintah militer Jepang di Indonesia. 

    Pada awal pendudukannya, secara kultural Jepang mulai melakukan berbagai perubahan. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan kekuasaannya dan menghapus segala pengaruh Belanda di masyarakat. 

    Serangkaian kebijakan tersebut diperkuat dengan dikeluarkannya aturan baru di Indonesia yaitu UU No. 4 yang menyatakan bahwa :
    • Hanya bendera Jepang (Hinomaru) yang boleh dipasang.
    • Saat hari-hari besar, yang boleh diperdengarkan hanya lagu kebangsaan Jepang yaitu Kimigayo. Padahal sebelum tentara Jepang datang ke Indonesia, Lagu Indonesia Raya sering diperdengarkan di Radio Tokyo.
    • Selain itu juga pada tanggal 1 April 1942, seluruh rakyat Indonesia menggunakan pembagian waktu oleh Jepang. Rentang waktu antara Tokyo dan Jawa saat itu adalah 90 menit.
    • Sejak tanggal 24 April 1942, petunjuk waktu (kalender) sudah harus menggunakan tarikh Sumera (tarikh Jepang), menggantikan tarikh Masehi. Waktu tarikh Masehi 1942 sama dengan 2602 Sumera. 
    • Setiap tahun rakyat Indonesia harus merayakan Hari Raya Tencosetsu yaitu Hari Raya Kelahiran Kaisar Hirohito (perayaan dimulai sejak 1942). 
    Di bidang politik, Jepang juga melakukan kebijakan dengan melarang penggunaan bahasa Belanda dan mewajibkan rakyat Indonesia untuk menggunakan bahasa Jepang.

    Selang beberapa waktu, Jepang semakin tertekan karena serangan Sekutu. Untuk itulah Jepang menyiasati untuk lebih baik kepada masyarakat jajahannya, hal ini dibuktikan dengan dikeluarkannya kebijakan sidang istimewa parlemen ke-82 di Tokyo. Kebijakan tersebut menyatakan untuk memberi kesempatan bagi orang Indonesia untuk turut serta dalam pemerintahan.

    Akhirnya pada 1 Agustus 1943, diumumkanlah Saiko Shikikan (pengumuman Panglima Tertinggi) tentang garis besar rencana mengikutsertakan orang Indonesia dalam pemerintahan.

    Hal ini tentu menjadi kesempatan emas bagi rakyat Indonesia untuk belajar menjadi aparat pemerintah. Adapun orang-orang Indoneseia yang ikut serta dalam pemerintahan negara, diantaranya :

    Pengangkatan 7 penasihat (sanyo) bangsa Indonesia pada pertengahan bulan September 1943, yaitu :
    • dr. Abdul Rasyid : Birp Departemen Dalam Negeri.
    • Ir. Soekarno : Departemen Urusan Umum.
    • Mochtar bin Prabu Mangkunegoro : Departemen Lalu Lintas.
    • Mr. Muh. Yamin : Departemen Propaganda.
    • Mr. Suwandi : Biro Pendidikan dan Kebudayaan.
    • Prawoto Sumodilogo : Departemen Perekonomian.
    • Prof. Dr. Mr. Supomo : Departemen Kehakiman.
    • Prof. Dr. Husein  Djajadiningrat sebagai kepala Departemen urusan Agama (1 Oktober 1943).
    Pengangkatan dua orang syuco pada 10 November 1943, yakni :
    • R.M.T.A Suryo : Syuco di Bojonegoro.
    • Mas Sutardjo kartohadikusumo : Syuco di Jakarta.

    C. Pembentukan Pemerintahan Sipil Jepang


    Demi mendukung kelancaran pemerintahan pendudukan Jepang di Indonesia yang sifatnya militer, Jepang juga mengembangkan pemerintahan sipil. 

    Pada bulan Agustus 1942, pemerintahan militer berusaha meningkatkan sistem pemerintahan, antara lain dengan mengeluarkan UU No. 27 tentang pemerintahan daerah dan dimantapkan dengan Undang-Undang No.28 tentang pemerintahan shu serta tokubetsushi. Dengan Undang-Undang tersebut, pemerintahan akan dilengkapi dengan pemerintah sipil.

    Menurut UU No.28 tersebut, Jepang membagi wilayah pemerintahan daerah menjadi beberapa tingkatan yaitu :
    • Shu : Karesidenan (pemerintahan daerah yang tertinggi), dipimpin oleh seorang shocukan (seperti Gubernur). Shocukan juga memiliki kekuasaan yaitu kekuasaan legislatif dan eksekutif seperti Gubernur pada Hindia-Belanda.
    • Shi : Kota Praja (dipimpin oleh seorang shico)
    • Ken : Kabupaten (dipimpin oleh seorang kenco)
    • Gun : Kawedanan (dipimpin oleh seorang gunco)
    • Son : Kecamatan (dipimpin oleh seorang sonco)
    • Ku : Desa/Kelurahan (dipimpin oleh seorang kuco)
    Pembagian wilayah tersebut mencakup seluruh Pulau Jawa dan Madura terkecuali Kochi Yogyakarta dan Surakarta. Adapun Jepang membagi Pulau Jawa dan Madura menjadi 17 Shu.

    Dalam menjalankan pemerintahannya, shocukan dibantu oleh Cokan Kanbo (Majelis Permusyawaratan Shu).

    Setiap Cokan Kanbo memiliki tiga bu (bagian), yaitu :
    • Naisebu : bagian pemerintahan umum.
    • Kaisebu : bagian ekonomi.
    • Keisatsubu : bagian kepolisian.
    Pemerintah pendudukan Jepang juga dapat membentuk sebuah kota yang dianggap memiliki posisi yang sangat penting sehingga menjadi daerah otonomi (daerah swatantra). Daerah ini disebut juga tokubetsushi (kota istimewa), yang posisi dan kewenangannya seperti shu yang berada langsung di bawah pengawasan gunseikan. Misalnya adalah Kota Batavia sebagai Batavia Tokubetsushi di bawah pimpinan Tokubetu Shico.

    Kebijakan pemerintahan militer Jepang dalam bidang birokrasi politik memberikan dampak bagi bangsa Indonesia. Antara lain yaitu :

    Negatif 
    • Terjadinya perubahan struktur pemerintahan dari sipil ke militer.
    • Terjadinya mobilitas vertikal atau pergerakan ke atas dalam birokrasi di Indonesia.
    Positif
    • Bangsa Indonesia mendapatkan pengetahuan tentang cara mengatur pemerintahan yang baik, karena diberikan kesempatan oleh Jepang untuk menduduki jabatan penting dalam pemerintahan seperti Gubernur dan wakil gubernur, Residen maupun Kepala Polisi.
    Baca ini juga sob : Organisasi militer dan semimiliter bentukan Jepang di Indonesia

    Demikanlah artikel tentang Pembentukan Pemerintahan Militer-Sipil Jepang Saat Menjajah Indonesia, semoga menambah wawasan kita terhadap nilai sejarah Indonesia di masa lampau.
    Salam Pelajar Indonesia !

    ^ Referensi : 

    Buku BSE K13 Sejarah Indonesia kelas XI semester II
    http://www.astalog.com/2161/struktur-pemerintahan-sipil-di-indonesia-pada-masa-pemerintahan-jepang.htm

    Read More
    Faktor Penyebab Kemunduran dan Keruntuhan VOC

    Faktor Penyebab Kemunduran dan Keruntuhan VOC

    Faktor Penyebab Kemunduran VOC dan Runtuhnya VOC - Setelah beragam kebijakan dan kekejamannya di Nusantara dalam kurun waktu sekitar 200 tahun, VOC dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799 oleh Belanda dengan hutang sekitar 136,7 juta Gulden dan kekayaan yang ditinggalkan berupa kantor, gudang, benteng, kapal dan daerah kekuasaan di Indonesia. Semua asetnya lalu diambil alih oleh pemerintah Belanda.


    Faktor Penyebab Kemunduran dan Keruntuhan VOC
    Faktor Penyebab Kemunduran dan Keruntuhan VOC

    Adapun faktor penyebab dibubarkannya VOC antara lain :

    1. Para pegawai VOC melakukan korupsi dan kecurangan karena bergaji rendah.
     
    2. Banyaknya saingan kongsi dagang dari negara lain di Asia, terutama Perancis dan Inggris.
     
    3. Banyaknya gaji yang harus dibayar, karena luasnya kekuasaan membutuhkan pegawai yang banyak.
     
    4. Pengeluaran VOC semakin besar karena membiayai perang, berebut monopoli perdagangan, memperluas jajahan maupun melawan perlawanan rakyat dari berbagai daerah.

    5. VOC terlilit banyak hutang. 

    Contoh penyebabnya adalah diberlakukannya dividen kepada pemegang saham (pembagian keuntungan). Saat VOC merugi, dividen tetap diberikan agar mereka tidak menarik modalnya, lama kelamaan VOC kekurangan pemasukan dan akhirnya banyak hutang.

    6. Revolusi Perancis yang merubah tatanan politik di Negeri Belanda (1795). 

    Perancis mengubah Kerajaan Belanda menjadi Republik Bataaf yang demokratis dan liberal yang berpandangan monopoli dagang VOC bertentangan dengan prinsip perdagangan bebas. Karena hal ini pula, VOC dibubarkan.

    Kala itu, sebagai Gubernur Jenderal terakhir Pieter Gerardus van Overstraten masih harus bertanggung jawab mengenai keadaan Hindia-Belanda. Ia masih harus mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris pada masa pemerintahan berikutnya, yaitu pemerintahan Republik Bataaf.

    VOC bubar masih ada kelanjutan dari kolonialisme dan imperialisme di Indonesia. Ingin tahu kelanjutannya ? Sobat bisa mengupas lebih dalam lagi di sini : Ringkasan Pemerintahan Republik Bataaf � Masa Setelah Kehancuran VOC

    Ringkasan sangat singkat :

    Maksud �dunia timur penghasil rempah-rempah� itu ternyata Kepulauan Nusantara. Bangsa Eropa menemukan daerah penghasil rempah dan perdagangan meningkat. Untuk menghindari persaingan pedagang, dibentuklah kongsi dagang. Kongsi dagang itu seperti IEC dari Inggris (berpusat di India) atau VOC dari Belanda. 

    Kepengurusan VOC mula-mula dipimpin oleh Dewan Tujuh Belas di Amsterdam, agar lebih efektif dan produktif maka diangkat jabatan Gubernur Jenderal yang berkedudukan di Hindia. Sebagai kongsi dagang, VOC mencari keuntungan sebanyak-banyaknya lalu menguasai daerah-daerah di Nusantara. Lambat laun VOC menjadi kongsi penjajah dan memulai kolonialisme imperialisme di Indonesia.

    VOC memiliki masa kejayaan dengan wilayah yang sangat luas. Namun hal ini juga mengakibatkan manajemen pemerintahan bermasalah. Pengawasan terhadap pegawai dan pengurus VOC mulai berjalan tidak baik. Pegawai korupsi, hutang membludak, kas habis untuk biaya perang dan akhirnya VOC bangkrut.
    Kebangkrutan ini kemudian mengakhiri perjalanan VOC, dan dibubarkan pada 31 Desember 1799 oleh pemerintah Belanda. 

    Setelah pembubaran VOC, Belanda kemudian membentuk sistem pemerintahan baru yang bernama Republik Bataaf di bawah kekuasaan Perancis guna melanjutkan kolonialisme dan imperialisme di Nusantara. 

    Baca juga : Masa Pemerintahan Republik Bataaf (Batavia)

    Pentutup.....

    Sekian pembahasan tentang VOC kali ini. Semoga dengan mengenal seluk-beluk VOC kita dapat mengenali sejarah di masa lampau sebelum negeri ini terbentuk. 

    Selain itu kita juga dapat belajar dari peristiwa tersebut, bahwa kita juga tidak boleh dijajah oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Mari kita lanjutkan perjuangan pahlawan masa lampau dengan memberantas penjajahan di era modern saat ini...

    Salam generasi emas Indonesia !
    Read More
    Hak Istimewa dan Aturan Khusus VOC

    Hak Istimewa dan Aturan Khusus VOC

    Hak Istimewa VOC dan Aturan-aturan Khusus VOC - Apa itu VOC ? VOC merupakan singkatan dari Vereenidge Oostindische Compagnie yang berarti �Persekutuan Perusahaan Hindia Timur�. VOC adalah kongsi dagang asal Belanda yang memonopoli aktivitas perdagangan di Asia dan menyatukan perdagangan rempah-rempah dari wilayah timur.

    Hak Istimewa dan Aturan Khusus VOC
    Hak Istimewa dan Aturan Khusus VOC

    Sebagai sebuah kongsi dagang, VOC memiliki beragam hak istimewa dan kewenangan yang sangat luas. Walau hanya sebuah kongsi dagang saja, VOC didukung penuh oleh negara (Belanda) dan difasilitasi secara istimewa. 

    Menyibak sejarahnya dari batavia, VOC terus memperluas kekuasaannya ke penjuru Nusantara. Dengan kekuatan militer dan devide at impera, banyak wilayah yang tunduk pada VOC. 

    Agar dapat menjalankan tugasnya dengan lebih leluasa lagi, VOC diberikan hak istimewa dan aturan khusus dari pemerintah Belanda. Aturan dan hak istimewa tersebut sangat membantu VOC dalam memonopoli perdagangan. Adapun aturan dan hak istimewa VOC yaitu :


    A. ATURAN-ATURAN VOC

    • Para petani rempah hanya boleh bertindak sebagai produsen. Hak jual beli dimiliki oleh VOC.
    • Panen rempah-rempah harus dijual kepada VOC dengan harga yang telah ditentukan oleh VOC.
    • Barang kebutuhan sehari-hari (garam, kain, peralatan rumah tangga, dan sebagainya) harus dibeli dari VOC dan dengan harga yang telah ditentukan VOC.

    B. HAK ISTIMEWA VOC


    Dalam melakukan tugasnya di Nusantara, VOC memiliki berbagai hak yang istimewa. Hak istimewa tersebut diberikan oleh Pemerintah Belanda kepada VOC seperti tercantum dalam Oktrooi (Piagam/Charta) tanggal 20 Maret 1602. 

    Hak istimewa ini juga biasa dikenal dengan Hak Octroi, yaitu hak bertindak sebagai suatu negara dan bersifat mutlak untuk diakui dan dilaksanakan.

    Adapun Hak Octroi/Octroy tersebut antara lain :

    Hak monopoli perdagangan dan berlayar di wilayah sebelah timur Tanjung Harapan dan sebelah Barat Selat Magelhaens serta menguasai perdagangan untuk kepentingan sendiri.

    Hak kedaulatan (seoverceinit) untuk bertindak sebagai layaknya suatu negara, seperti :
    • Hak memungut pajak
    • Hak mendirikan benteng perang.
    • Hak membentuk pengadilan.
    • Hak membentuk angkatan perang sendiri.
    • Hak menyatakan perang dan damai.
    • Hak mengangkat dan memberhentikan pegawai
    • Hak mencetak dan mengedarkan mata uang sendiri.
    • Hak mengadakan perjanjian dengan raja setempat.
    • Hak merebut dan menduduki daerah-daerah asing.
    • Hak memerintah daerah yang telah diduduki tersebut.
    Dengan adanya aturan dan tersebut, VOC sangat siap melakukan ekspoitasi untuk menguras kekayaan yang ada. Aturan tersebut bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Karena hal ini pula, menjadikan VOC sebagai kongsi penjajah, bukan sebagai kongsi dagang.

    VOC yang semula merupakan kongsi dagang berubah menjadi kongsi penjajah yang sangat kejam. Ini tentu menjadi ironi sejarah Indonesia, yang sebaiknya kita pelajari bersama sehingga bangsa Indonesia tidak terjajah untuk kedua kalinya.

    Salam Hangat Indonesiaku !
    Read More
    Pengertian VOC, Tujuan, Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya

    Pengertian VOC, Tujuan, Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya

    Tujuan VOC, Latar Belakang didirikannya VOC, dan Sejarah Singkat Berdirinya VOC di Indonesia - Apa itu VOC ? VOC merupakan singkatan dari Vereenidge Oostindische Compagnie yang berarti �Persekutuan Perusahaan Hindia Timur�. Penamaan Hindia Timur karena ada juga persekutuan dagang Hindia Barat yang bernama Geoctroyeerde Westindische Compagnie.

    Pengertian, Tujuan, Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya VOC di Indonesia

    #1. Pengertian VOC Secara Singkat


    VOC adalah kongsi dagang asal Belanda yang memonopoli aktivitas perdagangan di Asia dan menyatukan perdagangan rempah-rempah dari wilayah timur.

    Sebagai sebuah kongsi dagang, VOC memiliki beragam hak istimewa dan kewenangan yang sangat luas. Walau hanya sebuah kongsi dagang saja, VOC didukung penuh oleh negara (Belanda) dan difasilitasi secara istimewa.

    Misalnya VOC boleh memiliki pasukan perang dan mengadakan perjanjian dengan negara lain. Ini juga alasan mengapa VOC sering disebut sebagai negara di dalam negara.

    VOC oleh kalangan orang Indonesia sering juga disebut dengan Kumpeni atau Kompeni. Mengapa ? Karena umumnya mayoritas orang Indonesia lebih mudah dalam pengucapannya (diambil dari kata compagnie). Namun rakyat Nusantara lebih mengenal Kompeni sebagai tentara Belanda bukan sebagai sebuah kongsi dagang.

    Itulah sedikit penjelasan singkat mengenai arti dari VOC, namun alangkah baiknya jika sobat memahami VOC lebih luas lagi. Makin banyak wawasan, makin baik bukan ?

    #2. Latar Belakang Kelahiran/Berdirinya VOC


    Latar belakang secara singkat :
    • Keinginan untuk memonopoli perdagangan.
    • Menghilangkan persaingan antar pedagang Belanda dan Eropa
    Latar belakang secara kronologis :

    Pedagang dari bangsa Barat datang ke Indonesia dengan itikad baik dan mulai membentuk kongsi dagang. Seiring berjalannya waktu, kongsi dagang di Nusantara semakin banyak hingga timbul persaingan antara kongsi dagang satu dengan lainnya. Persaingan tersebut semakin ketat hingga tidak mengenal kongsi sesama bangsa. Hal ini menyebabkan kerugian terhadap pemerintah Belanda karena para pedagang Belanda juga saling berseteru.

    Sehubungan dengan hal itu, pada tahun 1598 pemerintah dan Parlemen Belanda (Staten Generaal) khususnya Johan van Oldenbarneveldt mengusulkan untuk membentuk kongsi dagang yang lebih besar dengan membentuk perusahaan dagang, seperti yang telah dilakukan oleh Inggris (EIC) dan Perancis (French East India Company pada tahun 1604).

    Usulan tersebut mendapat sambutan baik, dan pada 20 Maret 1602 didirikanlah kongsi dagang �Persekutuan Perusahaan Hindia Timur� atau lebih dikenal sebagai VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie).

    #3. Sejarah Singkat Berdirinya VOC


    Perjalanan mengarungi jalur laut oleh penjelajah untuk mencari keuntungan dan kekayaan pada akhirnya tercapai. Berbagai tujuan dapat dikatakan berhasil setelah menemukan daerah penghasil rempah-rempah di wilayah Nusantara. Pada awalnya, bangsa Eropa datang ke Asia Timur dan Tenggara (termasuk Nusantara) adalah untuk berdagang, termasuk juga dengan bangsa Belanda.

    Misi dagang tersebut kemudian dilanjutkan dengan membentuk kolonialisasi (politik pemukiman) dengan kerajaan-kerajaan di Sumatera, Jawa, dan Maluku. Hal tersebut lalu menjadi cikal bakal kolonialisasi di Indonesia.

    Pada tahun 1591, Portugis melakukan kerjasama dengan Jerman, Spanyol dan Italia menggunakan Kota Hamburg sebagai pelabuhan utama. Kota itu digunakan untuk mendistribusikan barang dari Asia dan memindahkan jalur perdagangan agar tidak melewati Belanda.

    Hal ini justru membuat perdagangan Portugis tidak efisien dan tidak mampu menyuplai permintaan yang tinggi, terutama lada. Lambat laun harga lada melonjak drastis kala itu.

    Karena beragam faktor tersebut, Belanda akhirnya memutuskan ikut masuk ke perdagangan rempah-rempah dunia. Ekspedisi Belanda pun mulai dilakukan, hingga akhirnya Jan Huygen van Linschoten dan Cornelis de Houtman menemukan �jalur rahasia�. Penemuan jalur rahasia ini merupakan kesuksesan bagi Belanda, terutama keberhasilan Cornelis de Houtman atas ekspedisinya.

    Setelah penemuan jalur tersebut, Belanda mulai melakukan ekspedisi kembali pada tahun 1596 dan singgah di Banten yang merupakan Pelabuhan utama di Pulau Jawa (1595-1597).  Ekspedisi yang dipimpin Cornelis tersebut merupakan kontak pertama antara Indonesia dengan Belanda.

    Ketika sampai di Banten, Belanda mendapat perseteruan dari Portugis dan penduduk lokal. Belanda mundur lalu melanjutkan perjalanannya ke arah timur melalui pantai utara Jawa. Perjalanan tidak berjalan dengan mulus, Belanda diserang penduduk lokal di Sedayu (12 awak meninggal) dan mendapat perseteruan dari penduduk lokal Madura (pimpinan lokal terbunuh).

    Karena banyak korban, akhirnya Belanda pulang ke negerinya dengan membawa rempah-rempah sebagai keuntungan yang melimpah.

    Kembalinya Cornelis ke negerinya menyebabkan bangsa Belanda berbondong-bondong datang ke Nusantara untuk berdagang guna mencari untung. Semakin ramainya pedagang Belanda di Nusantara menyebabkan persaingan dagang semakin ketat.

    Para pedagang Portugis bersaing dengan pedagang Spanyol, pedagang Spanyol bersaing dengan Inggris, Inggris bersaing dengan Belanda, dan seterusnya hingga antar bangsa pun saling bersaing.

    Semakin banyaknya pedagang bangsa asing, tentu kurang baik untuk mencari keuntungan. Hal ini akhirnya disiasati melalui kerjasama membentuk sebuah kongsi dagang guna memperkuat kedudukan di �Dunia Timur�. Masing-masing kongsi dagang dari suatu negara membentuk persekutuan dagang bersama.

    Adapun Inggris yang membentuk perusahaan dagang Asia pada 31 Desember 1600 dan dinamai �The British East India Company � (sering disebut EIC) yang berpusat di Kalkuta, India. Dari Kalkuta, kekuatan dan kebijakan di �Dunia Timur� dikendalikan. Bahkan pada tahun 1811, kedudukan Inggris begitu kuat dan meluas bahkan pernah berhasil menempatkan kekuasaannya di Nusantara.

    Ketatnya persaingan dagang juga berlaku antar pedagang Belanda. Antar kongsi dagang ingin memperoleh keuntungan sebesar-besarnya walau pesaingnya adalah pedagang dari negeri sendiri.

    Hal ini mendapat tanggapan serius dari pemerintah Belanda, karena bukan tidak mungkin Belanda akan sangat merugi.

    Sehubungan kejadian itu,  pada tahun 1598 pemerintah dan Parlemen Belanda (Staten Generaal), khususnya Johan van Oldenbarneveldt mengusulkan untuk membentuk kongsi dagang yang lebih besar, dengan membentuk perusahaan dagang seperti yang telah dilakukan oleh Inggris dan Perancis.

    Usulan ini disambut dengan baik dan terlaksana 4 tahun kemudian tepatnya pada tanggal 20 Maret 1602 dengan menghabiskan modal pertamanya sekitar 6,5 miliar gulden. Kongsi dagang itu kemudian diberi nama VOC (Vereenidge Oostindische Compagnie) dan dalam bahasa Indonesia berarti �Persekutuan Perusahaan Hindia Timur�, yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda.

    Didirikannya VOC tentu memiliki berbagai tujuan. Bukan asal-asal membuat.

    #4. Lalu, Apa Tujuan didirikannya VOC ?


    Tujuan pembentukan VOC seperti tertuang dalam perundingan 15 Januari 1602 adalah untuk �menimbulkan bencana pada musuh dan guna keamanan tanah air�. Maksud dari musuh kala itu adalah bangsa Spanyol dan Portugis yang bersekutu untuk merebut dominasi kekuasaan di Asia pada kurun waktu antara Juni 1580 � Desember 1640.

    Adapun tujuan lainnya yaitu :
    • Membantu dana pemerintahan Belanda.
    • Menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia.
    • Menguasai pelabuhan-pelabuhan penting di Indonesia.
    • Menghindari persaingan curang yang akan merugikan para pedagang Belanda.
    • Mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk membiayai perang melawan Spanyol.
    • Memperkuat kedudukan Belanda agar tidak tersaingi Portugis dan bangsa Eropa lainnya.
    • Agar dapat memonopoli perdagangan di Nusantara terutama memonopoli rempah-rempah.

    #5. Sistem Birokrasi Politik VOC


    Awal mulanya, VOC dipimpin oleh Dewan Tujuh Belas. Seiring berjalannya waktu, VOC mulai memperoleh kekuasaannya di berbagai daerah. Hingga pada akhirnya kekuasaan VOC sangat luas dan tidak memungkinkan untuk dipimpin oleh Dewan 17.

    Untuk memerintah kekuasaan VOC yang sangat luas, tentunya diperlukan seorang pemimpin yang dapat diandalkan. Sehubungan hal tersebut, maka diangkatlah jabatan Gubernur Jenderal yang akan memimpin sistem monopoli VOC. Tujuannya ? Tentu agar lebih efektif dan produktif.

    Dalam memimpin, seorang Gubernur dibantu oleh empat orang anggota yang disebut Raad van Indie (Dewan India).

    Di bawah Gubernur Jenderal terdapat gubernur yang memimpin suatu daerah, di bawahnya lagi ada residen yang dibantu asisten residen.

    Pieter Both sebagai Gubernur pertama harus melakukan tugasnya dengan baik. Pada tahun 1610, ia mendirikan pos perdagangan di Banten dan pada tahun itu juga ia meninggalkan Banten untuk memasuki Jayakarta.

    Pangeran Wijayakrama sebagai penguasa Jayakarta sangat terbuka dalam hal perdagangan. Jadi pedagang asal manapun boleh berdagang di sana. Karena keterbukaan itulah menjadikan Jayakarta sebagai kota yang sangat ramai.

    Di tahun  1611, Pieter Both melakukan perjanjian dengan penguasa Jayakarta untuk membeli tanah seluas 50x50 vadem (1 vadem =182 cm). Lokasinya di timur Muara Ciliwung. Lokasi ini lalu didirikan bangunan sebagai basis administrasi VOC di Nusantara.

    Kesuksesan Pieter Both lainnya adalah mengadakan perjanjian dan menanamkan pengaruhnya di Maluku kemudian berhasil mendirikan perdagangan di Ambon. Setelah itu Frederik de Houtman menjadi Gubernur VOC di Ambon (1605-1611) dan di Maluku (1621- 1623).

    Kenapa Jayakarta dipilih sebagai pusat kedudukan VOC ? 

    Ini alasannya...

    • Jayakarta lebih strategis dibandingkan dengan Ambon karena terletak di tengah jalur perdagangan Asia.
    • Jayakarta memudahkan VOC menyingkirkan Portugis di Selat Malaka.

    Pada awalnya, orang Belanda bersikap baik dengan rakyat. Sikap baik dari rakyat juga dimanfaatkan VOC untuk memperkuat kedudukannya di Nusantara. Seiring berjalannya waktu, sikap orang Belanda berubah menjadi sombong, congkak dan tamak. Karena merasakan nikmatnya tinggal di Nusantara, Belanda semakin bernafsu untuk menguasai dan menghalalkan segala cara, seperti paksaan dan kekerasan demi memperoleh keuntungan.

    Sikap tersebut membuat kebencian rakyat, dan pada 1618 Sultan Banten dibantu tentara Inggris di bawah laksamana Thomas Dale berhasil mengusir VOC dari Jayakarta. Setelah VOC tersingkir, selanjutnya rakyat mengusir Inggris dari jayakarta pada 1619, dan akhirnya Jayakarta dikuasai oleh kesultanan Banten.

    Saat JP. Coen dilantik sebagai Gubernur jenderal, ia mulai menjalankan aksinya. Ia sangat kejam dan ambisius. Merasa bangsanya dipermalukan Banten dan Inggris, ia mempersiapkan pasukan untuk menyerang Jayakarta. 18 kapal perangnya mengepung Jayakarta lalu membumihanguskannya pada 30 Mei 1619.

    Setelah dihancurkan, Belanda mendirikan kota kembali bergaya kota dan bangunan di Belanda. Jayakarta hilang, dan muncul kota baru yang dinamai Batavia.

    Gubernur Jenderal VOC yang dapat dikatakan berhasil lainnya dalam melakukan pengembangan usaha perdagangan dan kolonialisme di Indonesia, diantaranya :

    1. Jan Pieterszoon Coen : Pendiri Batavia dan pencetus kolonialisme dan imperialisme Belanda di Indonesia.
    2. Antonio van Diemen : Memperluas kekuasaan VOC ke Malaka tahun 1641 dan mengirim misi pelayaran ke Australia dan Selandia Baru.
    3. Joan Maetsuycker : Memperluas kekuasaan ke Padang, Semarang, dan Manado.
    4. Cornelis Speelman : Mengalahkan perlawanan Sultan Hasanuddin dari Makassar, meredakan pembrontakan Trunojoyo di mataram, dan mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten.
    Pelaksanaan sistem pemerintahan oleh VOC menerapkan sistem pemerintahan tidak langsung dengan memanfaatkan sistem feodalisme yang sudah berkembang di Nusantara.

    #6. Gubernur VOC ( sejarah pergantian kepengurusan VOC)


    Dalam mewujudkan tujuannya, VOC telah beberapa kali melakukan pergantian pimpinan kepengurusan. Berikut beberapa nama Gubernur Jendral yang memimpin VOC :

    1610-1614 Pieter Both
    1614-1615 Gerard Reynest
    1616-1619 Laurens Reael
    1619-1623 Jan Pieterszoon Coen
    1623-1627 Pieter de Carpienter
    1627-1629 Jan Pieterszoon Coen
    1629-1632 Jacques Specx
    1632-1636 Hendrik Brouwer
    1636-1645 Antonio van Diemen
    1645-1650 Cornelis van der Lijn
    1650-1653 Carel Reyniersz
    1653-1678 Joan Maetsuycker
    1678-1681 Rijckloff van Goens
    1681-1684 Cornelis Speelman
    1684-1691 Johannes Camphuys
    1691-1704 Willem van Outhoorn
    1704-1709 Joan van Hoorn
    1709-1713 Abraham van Riebereck
    1713-1718 Christoffel van Swol
    1718-1725 Hendrick Zwaardecroon
    1725-1729 Mattheus de Haan
    1729-1731 Diederik Durven
    1731-1735 Dirk van Cloon
    1735-1737 Abraham Patras
    1737-1741 Adriaan Valckenier
    1741-1743 Johannes Thedens
    1743-1750 Gustaaf Willem baron van Imhoff
    1750-1761 Jacob Mossel
    1761-1775 Petrus Albertus van der Parra
    1775-1777 Jeremias van Riemsdijk
    1777-1780 Reinier de Klerk
    1780-1796 Willem Arnold Alting
    1798- Pieter Gerardus van Overstraten

    #7. Istilah Penting dalam VOC

    • Dewan Tujuh Belas (de Heeren XVII) : Parlemen yang memimpin VOC pertama kali, yang beranggotakan 17 orang dan berkedudukan di Amsterdam, Belanda.
    • Pelayaran hongi : Pelayaran dengan menggunakan kapal kora-kora yang dipersenjatai guna mengawasi pelaksanaan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku.
    • Devide at Impera : Suatu politik yang dilakukan VOC untuk mengadu domba kerajaan di Nusantara agar terpecah-belah sehingga mempermudah memonopoli perdagangan.
    • Gubernur Jenderal : Jabatan tertinggi yang mengurus dan mengendalikan kekuasaan jajahan VOC.
    • Dewan Hindia (Raad van Indie): Jabatan yang berperan sebagai penasehat Gubernur Jenderal dan mengawasi kepemimpinannya.
    • Dividen : Pembayaran keuntungan oleh pemilik saham.
    • Gulden : Mata uang Belanda saat itu.
    • Hak Octroi : Hak istimewa yang dimiliki VOC dan bersifat mutlak untuk diakui dan dilaksanakan layaknya bertindak sebagai suatu negara di dalam negara.
    Artikel sejarah lainnya :

    Demikianlah artikel tentang pengertian VOC dan sistem birokrasi politiknya serta gubernur yang menjabat, semoga bermanfaat.

    Salam Pelajar Indonesia !


      Read More
      Kebijakan dan Kekejaman VOC di Indonesia serta Pengaruhnya bagi Rakyat Pribumi

      Kebijakan dan Kekejaman VOC di Indonesia serta Pengaruhnya bagi Rakyat Pribumi

      Kebijakan dan Tindakan Kejam VOC di Indonesia serta Pengaruhnya bagi Rakyat Indonesia - Masih ingat masa kepemimpinan JP. Coen ? Dia lah yang mempelopori penjajahan di Indonesia. Sikapnya yang congkak, kejam dan sangat bernafsu untuk memonopoli menjadi cikal bakal kongsi penjajah. Caranya untuk mengeksploitasi tanah air sungguh picik dan kejam.

      Kebijakan dan Kekejaman VOC di Indonesia serta Pengaruhnya bagi Rakyat Pribumi

      Setelah membuat aturan dan hak octroi, VOC sangat bebas untuk melakukan monopoli dan mengekspoitasi kekayaan Nusantara baik SDA maupun SDM.

      Berikut adalah sedikit gambaran mengenai kebijakan dan tindakan VOC...

      A. KEBIJAKAN DAN TINDAKAN VOC


      Berbagai tindakan yang dilakukakan VOC ketika dipimpin JP Coen dilakukakan secara sewenang-wenang dan dengan kekerasan bahkan dapat dikategorikan sebagai kekejaman.

      Adapun serangkaian kebijakan/tindakan VOC tersebut, antara lain :

      1. Contingenten

      Contingenten adalah kewajiban bagi rakyat untuk membayar pajak hasil bumi.

      2. Verplichhte Leverantie (Prianger Stelsel)

      Penyerahan wajib hasil bumi dengan harga yang telah ditetapkan VOC. Prianger Stelsel/Sistem Priangan dimulai sejak 1723, dengan korbannya masyarakat Priangan itu sendiri. Masyarakat dikenai aturan wajib menanam kopi dan menyerahkan hasilnya ke kompeni tanpa diberi upah sepeserpun. 

      3. Pelayaran Hongi

      Pelayaran Hongi yaitu pelayaran dengan menggunakan kapal kora-kora yang dipersenjatai guna mengawasi pelaksanaan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Tindakan nyata VOC kala itu yaitu merampas kapal penduduk yang menjual langsung rempah-rempah pada pedagang selain VOC (Inggris, Perancis).

      4. Monopoli perdagangan dengan cara kekerasan.

      5. VOC cukup menduduki tempat-tempat yang strategis untuk memonopoli.


      6. Merebut pasaran produksi pertanian dengan cara memaksakan monopoli.
       

      7. Hak Octroi yang membuat VOC lebih leluasa untuk memonopoli dan mengekspoitasi SDA/SDM.
       

      8. Peraturan mengenai ketentuan wilayah dan jumlah tanaman rempah-rempah yang boleh ditanam.
       

      9. Lembaga pemerintahan tradisional/kerajaan tetap dipertahankan agar dapat dipengaruhi/diperalat, jika tidak mau baru melakukan perang.

      10. Tidak aktif secara langsung dalam kegiatan produksi hasil pertanian. 

      Cara memproduksi hasil pertanian dibiarkan ke Pribumi, namun yang terpenting VOC dapat memperoleh hasilnya walau dengan paksaan.

      11. Membangun markas VOC di Batavia (sekarang Jakarta) yang sebelumnya berada di Ambon dan Banten. 

      Pemilihan Batavia sebagai markas untuk mempermudah pelayaran ke seluruh daerah di Nusantara karena Batavia letaknya sangat strategis. Kala itu J.P Coen dengan 18 kapal perangnya mengepung Jayakarta lalu membumihanguskannya pada 30 Mei 1619. Kemudian nama Jayakarta diganti menjadi Batavia.

      12. Menguasai pelabuhan-pelabuhan penting dan membangun benteng-benteng. 

      Pada tahun 1605, Belanda mendirikan pangkalan dagang di Banten yang sebelum itu terjadi, Belanda telah merebut benteng Victoria dari tangan Portugis di Ambon.
      Benteng-benteng yang dikuasai VOC antara lain :
      • Benteng Nasao di Banda
      • Benteng Doorstede di Saparua
      • Benteng Orange di Ternate
      • Benteng Rotterdam di Makassar
      • Benteng Victoria di Ambon
      • Benteng Kota Intan di Banten
      13. Politik Devide at Impera 

      Politik Devide at Impera yakni VOC melakukan campur tangan urusan kerajaan di Nusantara, terutama yang menyangkut usaha pengumpulan hasil bumi dan pelaksanaan monopoli rempah-rempah.

      Ketika terjadi masalah internal dalam sebuah kerajaan, VOC ikut campur dalam urusan dengan membantu salah satu pihak untuk mengalahkan lawannya. Tentunya ada udang di balik batu, ada beragam syarat yang harus dipenuhi oleh kerajaan dan bersifat menguntungkan VOC.

      Contoh politik Devide at Impera tersebut yaitu :
      • VOC membantu Sultan Haji mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa yang merupakan ayahnya sendiri sehingga dapat menguasai Banten.
      • Keberhasilan VOC memecah-belah Kerajaan Mataram menjadi 3 : Kasunanan, Kasultanan dan Mangkunegaran.
      • VOC membantu Aru Palaka (Raja Bone) melawan Sultan Hasanuddin (Sultan Makassar). Pada akhirnya terbentuklah sebuah perjanjian yang bernama �Perjanjian Bongaya� yang mengakibatkan Makassar jatuh ke tangan VOC.
      Sebenarnya masih banyak tindakan dan kebijakan yang dilakukan oleh VOC, namun beberapa contoh diatas sudah membuktikan bahwa tindak keserakahan dan kekerasan oleh VOC menunjukkan mereka tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Sang Pencipta. Kita tidak boleh meniru sama sekali.

      Kebijakan tersebut juga berpengaruh terhadap rakyat Indonesia itu sendiri, baik secara langsung maupun tidak langsung.

      B. KEKEJAMAN VOC


      Sudah kita ketahui, VOC sangatlah rakus dan tamak. Mereka mengekspoitasi SDA dan SDM di Nusantara dengan semena-mena. Kebijakan dan tindakan mereka juga jelas sangat merugikan Nusantara kala itu. 

      Awalnya baik, namun ujung-ujungnya jahat. Berpura-pura baik pada rakyat, namun ketika sudah akrab ditikung dari belakang. Sungguh cerdik dan picik.

      Inilah beberapa gambaran kekejaman VOC terhadap rakyat Pribumi....

      Aturan gila dari VOC seperti hak octroi menyebabkan rakyat hidup miskin dan menderita.

      Kebijakan, aturan, dan tindakan sinting itu dibuat VOC untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dari Nusantara. Hingga penderitaan rakyat memuncak, puluhan ribu batang tanaman rempah dibinasakan. Rakyat disiksa, dibunuh, dianiaya atau dijadikan budak bahkan gadis cantik dijadikan pemuas nafsu birahi mereka. Gila ! Sungguh keterlaluan...

      Baca juga : dampak pendudukan Jepang di Indonesia

      Ribuan rakyat lalu berbondong-bondong melarikan diri dan menjauh, tidak sedikit pula yang mati kelaparan di hutan atau pegunungan. Tanah rakyat ditinggalkan dan VOC membagi tanah ke para pegawainya.

      Karena hal itu, timbul beragam perlawanan dari berbagai daerah. Namun piciknya lagi, mereka ikut campur dalam urusan kerajaan dengan politik adu domba yang menyebabkan raja dan pahlawan kita gugur. Ribuan nyawa tumbang melawan VOC, dan kekuasaannya semakin menjadi-jadi.

      Semua menderita, semua sengsara dan merasakan kengerian dari kekejaman VOC kala itu. 

      Sebenarnya masih banyak contoh kekejaman VOC, namun sudah jelas bahwa VOC memang benar-benar jahat.

      C. PENGARUH KEBIJAKAN VOC BAGI RAKYAT INDONESIA

      Kebijakan dan tindakan yang dilakukan VOC tentu berpengaruh bagi rakyat Indonesia, ada negative ada juga yang positif...

      1. Negative :
      • Kekuasaan Raja menjadi berkurang
      • Rakyat menjadi miskin dan menderita karena hak octroi
      • Wilayah kerajaan terpecah-belah dengan melahirkan kerajaan dan penguasa baru di bawah kendali VOC.
      • Hak Ekstirpasi merupakan ancaman matinya harapan rakyat untuk menikmati sumber penghasilan yang lebih.
      • Pelayaran Hongi, dapat dikatakan sebagai perampasan, perampokan, perbudakan, dan pembunuhan sehingga menyengsarakan rakyat.
      2. Positif :

      Rakyat Indonesia mengenal mata uang baik logam maupun kertas, sistem pertahanan benteng, etika perjanjian, dan persenjataan modern (meriam, senjata api dan sebagainya).

      Sejarah merupakan ilmu yang mengasyikkan. Dengan kita mengenal sejarah penjajahan Belanda melalui VOC, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sesuatu yang dinamakan penjajahan benar-benar merugikan.
      Di era sekarang ini, penjajahannya sudah berubah menjadi penjajahan modern. 

      Maka dari itu, kita perlu mengantisipasi dan melawan segala bentuk penjajahan negara asing terhadap bangsa Indonesia sehingga kita tidak terjajah untuk kedua kalinya....

      Ayo Lawan Penjajah Modern Indonesia !
      Read More